RADARSOLO.COM – Penertiban spanduk penolakan penataan parkir di sisi timur Masjid Raya Sheikh Zayed memantik kekecewaan warga RW 13, Kelurahan Gilingan. Warga meminta pemerintah mengedepankan pendekatan humanis dan membuka ruang rembuk sebelum melakukan sterilisasi kawasan.
Sebelumnya, Satpol PP Kota Solo menurunkan sejumlah spanduk penolakan yang terpasang di area taman pada Kamis (1/10). Penertiban dilakukan karena spanduk tersebut dinilai tidak mengantongi izin pemasangan.
Kepala Satpol PP Kota Solo Didik Anggono mengatakan terdapat lima hingga enam spanduk yang terpasang di area taman. Seluruhnya memuat pesan penolakan terhadap rencana penataan parkir di sisi timur Masjid Sheikh Zayed.
Baca Juga: Canggih! Dua Siswi SDN Gurawan Solo Bikin Miniatur Smart Traffic Light Berbasis Coding
“Yang di taman kita lepas. Alasannya satu, kan memasang spanduk itu harusnya izin dulu. Itu enggak ada izin,” terang Didik.
Namun, sekitar dua hingga tiga spanduk yang terpasang di tembok milik warga tidak ikut diturunkan. Menurut Didik, lokasi tersebut berada di luar kewenangan Pemkot Solo.
“Yang di tembok warga enggak kita lepas. Itu kan bukan wewenangnya Pemkot,” paparnya.
Baca Juga: Air Mengering, Dasar Waduk Krisak Wonogiri Berubah Jadi Padang Rumput Hijau
Penertiban tersebut mendapat sorotan dari warga RW 13. Ketua Paguyuban Warga Rejosari RW 13 Lanyono meminta pemerintah tidak menggunakan pendekatan yang dinilai arogan. Warga, menurut dia, sejak awal terbuka untuk berdialog dan mencari solusi bersama.
“Kami mintanya ada rembuk dan jangan arogan. Makanya sampai kemarin (Kamis malam) masih kami pasang. Malamnya ada koordinasi dengan lurah dan lainnya,” ujarnya.
Baca Juga: Kenapa Orang Thailand Sering Pakai Khun Sebelum Nama? Ini Arti dan Aturannya
Untuk menjaga kondusivitas, warga kemudian melepas sendiri sisa spanduk yang masih terpasang pada Jumat (2/10). Langkah tersebut diambil karena kawasan Masjid Sheikh Zayed tengah menjadi pusat aktivitas masyarakat selama rangkaian Haul Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
“Baliho akhirnya dicopot karena inisiatif warga. Kami paham lah, ini kan haul, banyak orang datang ke Masjid Zayed. Kami ingin agar tidak ada suasana yang mencekam,” kata Lanyono yang juga menjabat sebagai ketua RT setempat.
Meski spanduk telah dicopot, persoalan penataan parkir belum dianggap selesai. Lanyono menegaskan warga masih menunggu solusi bersama terkait rencana sterilisasi kawasan tersebut.
Ia tidak menutup kemungkinan spanduk penolakan kembali dipasang setelah rangkaian haul berakhir apabila belum ada kesepakatan dengan pemerintah. Warga juga meminta sisi timur masjid tetap dapat digunakan sebagai lokasi parkir sembari menunggu solusi.
Menurut warga, keberadaan parkir di kawasan tersebut selama ini berkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, mereka keberatan jika parkir warga langsung dikategorikan sebagai parkir liar.
“Sebelum ada win-win solution kami minta sisi timur masjid masih bisa digunakan. Jangan seperti ini, di mana rasa keadilan dari pemerintah. Kami juga bayar pajak (retribusi), jangan seolah-olah ini parkir liar,” ujarnya.
Warga berharap penataan parkir tidak sekadar berorientasi pada sterilisasi kawasan, tetapi turut mempertimbangkan aktivitas warga yang selama ini menggantungkan penghasilan dari parkir.
Lanyono juga meminta rencana sterilisasi yang disebut akan dimulai Senin tidak langsung diterapkan sebelum ada pembahasan lebih lanjut dengan warga.
“Katanya Senin itu akan steril. Pertanyaannya, apakah sudah solusi? Kalau belum ada ya jangan disterilkan. Harusnya dikaji lagi,” tegasnya. (ves)
Editor : Kabun Triyatno