
RADARSOLO.COM - Bangun pagi bagi sebagian orang mungkin terdengar sebagai perkara sederhana. Namun, bagi Teater Qi, bangun pagi tidak selalu berarti membuka mata ketika matahari mulai terbit.
Setiap orang memiliki waktu dan caranya sendiri untuk “bangun” dalam menjalani kehidupan. Gagasan itulah yang coba dihidupkan Teater Qi melalui produksi ke-37 bertajuk “Bangun Pagi Bahagia” karya Andy SW.
Pementasan yang disutradarai Rias Viri tersebut hadir di Rumah Seni Banjarsari, Solo, Jumat (2/10/2026). Pementasan ini sebagai bagian dari tur empat kota yang dijalani Teater Qi.
Sebelum menyambangi Solo, pertunjukan tersebut telah dipentaskan di Tegal dan Kudus. Setelah Solo, perjalanan Teater Qi ditutup di Lembaga Indonesia Prancis (IFI) Yogyakarta, Sabtu (3/10). Tur tersebut menjadi ruang bagi para pemain untuk membawa cerita yang sama ke karakter penonton dan situasi panggung yang berbeda.
Baca Juga: Kelompok Kerja Teater Akar Pementasan Teater Musikal "Balada Dari Timur": Angkat Suara Mereka yang D
Rias Viri mengatakan, “Bangun Pagi Bahagia” sebenarnya bukan naskah baru. Karya Andy SW yang berasal dari Jogja itu sudah pernah dipentaskan sekira satu dekade lalu. Meski terlihat sederhana, Rias justru melihat ada tantangan besar ketika naskah tersebut kembali dihidupkan di atas panggung.
“Kelihatannya memang teks-teksnya itu biasa saja, tapi sebenarnya butuh kekuatan. Tidak cuma kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan menerjemahkan dari interpretasi,” ujar Rias Viri saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Jumat (2/10).
Baca Juga: Sanggar Seni Kemasan Gelar Pementasan “Ngloroh”: Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan Raden Mas Said
Bagi Rias, istilah bangun pagi tidak bisa dimaknai secara seragam. Apa yang disebut pagi oleh seseorang belum tentu memiliki arti yang sama bagi orang lain. Karena itu, pertunjukan tersebut tidak sekadar berbicara mengenai waktu ketika seseorang terjaga dari tidur, melainkan tentang momentum setiap individu untuk mulai menjalani hidupnya.
Cerita kemudian berpusat pada tiga sahabat, Bob, Bas, dan Frank. Ketiganya datang dengan masa lalu kelam masing-masing. Dalam perjalanan bersama, mereka justru menemukan ikatan melalui kesedihan dan pengalaman yang sama-sama tidak mudah.
“Bangun pagi itu buat individu. Bisa jadi menurut kita bangun pagi itu susah, tetapi bagi orang lain bangun pagi masih malam. Jadi kita tidak bisa mengartikan bangun pagi itu sama untuk semua orang. Masing-masing punya bangun paginya sendiri-sendiri,” jelasnya.
Persahabatan ketiga tokoh tersebut menjadi cara Teater Qi menyampaikan gagasan tentang kebahagiaan. Tidak ada keharusan bagi mereka untuk memiliki tujuan yang sama, apalagi menetapkan target besar dalam menjalani kehidupan. Mereka cukup berjalan bersama dan saling memahami.
Rias menyebut, kebahagiaan tidak selalu harus dicari melalui sesuatu yang muluk. Bahkan, kesedihan yang dialami bersama dapat menjadi ruang untuk saling memahami. Dari sana, persahabatan Bob, Bas, dan Frank tumbuh menjadi ikatan yang membuat mereka mampu menghidupkan perjalanan masing-masing.
Pilihan terhadap naskah tersebut juga tidak datang secara tiba-tiba. Rias mengaku sudah lama mengenal “Bangun Pagi Bahagia”, tetapi sempat kesulitan menemukan pemain yang dirasa tepat. Hingga akhirnya tiga pemain yang membawakan karakter utama bersedia mencoba naskah tersebut dan sepakat membawanya sekaligus dalam perjalanan keliling empat kota.
“Terus akhirnya yang tiga orang itu mau main. Saya bilang, ‘Nih, pokoknya kalau naskahnya Bangun Pagi Bahagia bagaimana?’ Mereka lihat dulu, kemudian merasa menarik dan setuju untuk main. Setelah itu muncul keberanian untuk sekalian pentas keliling,” ungkap Rias.
Perjalanan tersebut sekaligus menjadi eksperimen bagi Teater Qi. Setiap kota menghadirkan pengalaman berbeda, termasuk kondisi tempat pertunjukan. Di Tegal, misalnya, sesi sore banyak dipenuhi pelajar, sementara pertunjukan malam lebih banyak dihadiri kalangan seniman maupun masyarakat yang datang selepas bekerja.
Tantangan serupa ditemui ketika kondisi gedung dan cuaca tidak selalu mendukung pertunjukan. Namun, pengalaman itu justru menjadi bagian dari perjalanan Teater Qi. Rias menilai setiap persoalan di lapangan harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya agar pertunjukan tetap berjalan.
“Yang penting the show must go on. Apa yang terjadi di lapangan bisa kita akal-akalin bagaimana caranya. Kita bisa melewati itu dan menjawab tantangannya,” tutur Rias.
Baca Juga: Menelaah Makna Mendalam Pementasan Wanita Dalam Pelita di TBJT: Menghidupkan Kembali Suara Marsinah
Bagi Teater Qi, perjalanan “Bangun Pagi Bahagia” belum tentu berhenti setelah pementasan di Yogyakarta. Rias masih membuka kemungkinan karya tersebut kembali dipentaskan apabila setelah seluruh rangkaian tur selesai masih ada perasaan bahwa cerita itu belum benar-benar selesai. Pengalaman penonton pun bisa berubah seiring waktu.
Dia mencontohkan penonton yang menyaksikan pementasan sekira 10 tahun lalu, lalu kembali menontonnya sekarang dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya belum terjawab. Sebab, seperti makna “bangun pagi” dalam pertunjukan itu, sebuah cerita pun bisa menemukan arti berbeda ketika dilihat dari perjalanan hidup yang berbeda. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy