RADARSOLO.COM – Haul Solo yang berlangsung Jumat (2/10) hingga Minggu (4/10) tak hanya meninggalkan kesan bagi jutaan peserta yang datang ke Kota Solo. Di balik ramainya rangkaian kegiatan, warga lokal ikut merasakan berkah ekonomi. Penginapan penuh, warung makan ramai, hingga pengayuh becak kebanjiran penumpang.
Pelaksanaan Haul Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi 2026 juga mendapat dukungan lebih besar dari Pemkot Surakarta. Tahun ini, pemerintah kota tidak hanya memperkuat pengamanan, penataan lalu lintas, dan perparkiran, tetapi juga mengerahkan jajaran pemangku wilayah di Kecamatan Pasar Kliwon untuk membantu kebutuhan peserta.
Baca Juga: Waspada Ancaman Longsor Gunungan Sampah TPA Putri Cempo
Sejumlah fasilitas kelurahan dibuka sebagai tempat istirahat dan MCK. Pemerintah juga menyediakan layanan live streaming bagi peserta yang tidak dapat mendekat ke pusat kegiatan di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon.
“Belum bisa mendekat, kemarin live streaming di depan Kelurahan Baluwarti pakai layar yang disediakan kelurahan,” ujar Ismail, peserta asal Sidoarjo yang mengikuti haul dengan menggunakan kursi roda karena kondisi kesehatannya.
Tak berhenti di fasilitas kelurahan, Pemkot Solo bersama sejumlah pihak juga menyiapkan tenda darurat berukuran jumbo bagi peserta yang tidak mendapatkan penginapan.
Fasilitas tersebut banyak dimanfaatkan keluarga maupun rombongan peserta dari berbagai daerah yang datang ke Solo untuk mengikuti haul.
“Tidur di tenda yang disediakan pemerintah di Alun-alun. Sangat terbantukan dengan perhatian yang disediakan pemerintah. Dari Jumat malam sudah pakai tenda ini bareng 20 orang keluarga,” kata Zulika, peserta asal Probolinggo.
Di sisi lain, geliat ekonomi terasa di kawasan sekitar Masjid Riyadh. Warga yang menyewakan kamar ikut menikmati lonjakan permintaan selama haul.
Baca Juga: Terdengar Suara Ledakan, Truk Penuh Paket Ekspedisi Terbakar di Tol Solo-Ngawi Wilayah Boyolali
Sungkar, warga Kelurahan Sangkrah, misalnya, menyewakan empat kamar, terdiri atas dua kamar ber-AC dan dua kamar tanpa AC. Selama tiga hari pelaksanaan haul, dia mengaku meraup keuntungan sekitar Rp7,5 juta hingga Rp10 juta.
“Saya sewakan empat kamar, dua AC dua non-AC. Semua di daerah Pasar Kliwon seperti ini, jadi hidup semua ekonominya saat haul seperti ini,” tuturnya.
Rezeki juga mengalir kepada pengemudi ojek dan pengayuh becak. Gator, pengayuh becak yang biasa mangkal di sekitar Keraton Solo, mengatakan pendapatannya meningkat beberapa kali lipat dibandingkan hari biasa.
Jika biasanya hanya membawa pulang sekitar Rp100 ribu per hari, selama haul penghasilannya bisa mencapai Rp500 ribu sehari.
“Dari penumpang haulnya saja hampir Rp500 ribu, belum ditambah yang wisata akhir pekan ini,” beber Gator.
Perputaran uang juga dirasakan pedagang makanan dan minuman, penyedia jasa MCK, pengelola parkir, hingga pelaku usaha lainnya. Lonjakan aktivitas tersebut membuat Haul Solo menjadi salah satu momentum yang turut menggerakkan ekonomi masyarakat.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan haul. Menurutnya, ramainya peserta memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi kota.
“Terima kasih kepada seluruh panitia dan semua pihak yang terlibat. Semua penginapan hotel penuh, tempat makan laris semua, ini perputaran ekonomi yang baik,” kata Respati saat mengikuti kerja bakti seusai pelaksanaan Haul Solo, Minggu (4/10) siang.
Namun, Respati mengingatkan bahwa berakhirnya rangkaian haul bukan berarti seluruh pekerjaan selesai. Dia meminta seluruh pihak bersama-sama membersihkan sampah yang tersisa setelah kegiatan.
“Walau haul sudah selesai, pekerjaan masih belum selesai. Saya minta semua ikut membantu untuk membersihkan sampah sisa kegiatan ini,” pungkasnya. (ves)
Editor : Kabun Triyatno