RADARSOLO.COM - Direktur Kuratorial Utama Tahir Solo Museum (TSM) Sarah Law angkat bicara soal polemik patung kayu karya Junian Afero dalam pameran Humanity.
Ia menegaskan, pameran tersebut bertujuan mempromosikan karya seni dan talenta lokal, tanpa mengabaikan identitas penciptanya.
Menurut Sarah, patung karya Junian memiliki nilai artistik dan autentisitas kuat.
Karya itu mengekspresikan keindahan alam, sekaligus merepresentasikan tema pameran, yakni Humanity.
Baca Juga: Polemik Hak Cipta Patung Kayu di Pameran Tahir Solo Museum: Seniman Tagih Sidang Etik
“Saat pertama kali diundang ke kampus ISI Surakarta untuk meninjau karya-karya seni yang akan dipamerkan, saya langsung tertarik dengan patung ini. Sejak pandangan pertama,” ungkap Sarah, Minggu (4/10).
Sarah menambahkan, patung itu sebelumnya tidak banyak diketahui publik.
Sebab hanya disimpan di lingkungan kampus, tidak dipamerkan di depan publik.
Terkait kekeliruan caption, pihak museum mempercayakan deskripsinya kepada ISI Surakarta.
Ini bentuk penghormatan sebagai mitra penyelenggara.
“Pihak ISI sudah minta maaf secara serius dan segera memperbaiki,” bebernya.
Sarah juga menegaskan, museum komitmen menyediakan ruang bagi generasi muda, talenta, serta seniman Solo dan Indonesia.
“Kami sangat menghargai seniman. Kerja sama dalam bentuk pameran ini inisiatif bersama. Bertujuan untuk menemukan potensi seni, serta mempromosikan seniman-seniman Solo,” ujarnya.
Dalam waktu dekat pihak museum akan mengundang Junian Afero beserta seniman, alumni, dan mahasiswa yang karyanya dipamerkan.
Mereka diberi kesempatan untuk menjelaskan konsep di balik karya tersebut.
“Sesi ini akan direkam sebagai dokumenter. Harapannya dapat mempromosikan karya-karya tersebut di kancah global,” paparnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo