RADARSOLO.COM - Perubahan tak selalu lahir dari aksi besar. Kadang, ia dimulai dari keberanian sederhana. Berani menegur ketika melihat perundungan, mau mendengarkan teman yang berbeda, atau memilih tidak diam ketika intoleransi terjadi di sekitar.
Pesan itulah yang membekas bagi 24 pelajar dari tiga sekolah di Kota Solo setelah mengikuti Gerak Dampak Academy (GDA) 2026. Selama dua hari, 29–30 September, mereka belajar mengenali diri, membaca persoalan di lingkungan sekitar, hingga memahami keberagaman dan cara menjaga perbedaan agar tidak berubah menjadi konflik.
Kegiatan yang dihelat Yayasan Kepedulian untuk Anak (KAKAK) Solo bersama pemkot dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah itu menjadi ruang bagi para pelajar untuk berlatih menjadi agen perdamaian di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Cara Stek Bunga Bougenville 3 Warna Sekaligus, Ini Trik Mudah Sambung Pucuk Anti Gagal
Pelajar dari beberapa sekolah ini sebelumnya mengikuti mini bootcamp di sekolah masing-masing sebelum dipertemukan dalam intensive course dengan materi yang lebih intensif.
Bagi Nathaza Octa Regina Putri, 16, pengalaman tersebut membuka cara pandangnya terhadap persoalan yang selama ini dekat dengan kehidupan remaja. Siswi kelas XI SMK Negeri 6 Solo yang aktif dalam ekstrakurikuler Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) itu mengaku senang bisa bertemu teman dari sekolah berbeda. Namun, materi tentang keberagaman dan persoalan sosial justru menjadi pengalaman yang paling membekas.
Baca Juga: Bali Punya Batik Ulamsari Mas: Ada Filosofi Kehidupan Laut
“Menyenangkan sekali, kami mendapat banyak teman baru dari berbagai sekolah, tetapi yang paling berkesan tentu materi yang kami dapat selama mengikuti kegiatan itu. Kami diajak untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar,” ucap Nathaza.
Dalam kegiatan tersebut, para pelajar tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka berdiskusi, bermain peran, mengikuti aktivitas kelompok, hingga belajar memahami keberagaman agama dan kehidupan masyarakat.
Dari sana, Nathaza mulai melihat persoalan perundungan dan diskriminasi dengan sudut pandang berbeda. Menurut dia, mengetahui bahwa bullying dan diskriminasi merupakan tindakan yang salah saja tidak cukup. Dibutuhkan keberanian untuk mencegahnya.
Baca Juga: Pulang Kampung ke Jatipuro, Bupati Klaten Hamenang Serap Aspirasi Soal Normalisasi Saluran Irigasi
“Kepedulian tidak cukup hanya dengan mengetahui bahwa bullying atau diskriminasi itu salah. Harus ada keberanian untuk mencegahnya. Kepedulian ini bisa kita mulai dari lingkungan yang paling dekat dulu, mungkin dari lingkungan rumah dan sekolah,” tuturnya.
Pengalaman serupa dirasakan Lyonel Isa Mahendra, 16. Siswa kelas X SMA Negeri 5 Solo itu mendapat pelajaran bahwa menjadi pemimpin atau teladan tidak harus menunggu seseorang memiliki jabatan atau pengaruh besar.
Menurut Lyonel, perubahan justru dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan diri sendiri. “Ketika melihat sampah berserakan, seseorang tidak perlu menunggu orang lain memungutnya. Leader yang baik itu dimulai dari diri sendiri, baru ke orang lain. Kita ini harus lebih dulu mampu menunjukkan perilaku positif sebelum mengajak orang lain melakukan hal yang sama,” kata warga Banjarsari tersebut.
Sementara itu, Banu Galih Fernando, 15, menangkap pesan lain yang tak kalah penting. Siswa kelas X SMA Warga Solo itu melihat keberagaman sebagai kekuatan yang harus dijaga, bukan dipertentangkan.
“Indonesia ini kaya banget budaya, suku, agama, dan golongannya. Jadi kita harus menjaga, memahami, dan melestarikan perbedaan yang ada,” ujarnya.
Menurut Fernando, toleransi beragama menjadi isu penting bagi generasi muda. Perkembangan teknologi membuat remaja semakin mudah berinteraksi dengan berbagai budaya, agama, pemikiran, dan kebiasaan.
Di tengah keterbukaan tersebut, kemampuan memahami perbedaan sekaligus menyaring informasi menjadi penting. Termasuk ketika menghadapi perundungan yang masih terjadi di lingkungan remaja.
“Bullying dan konflik sering kali berawal dari satu hal sederhana, kadang hanya karena kurang memahami orang lain. Makanya ketika kita mendapati perundungan di sekitar kita, kita tidak hanya harus memisahkan, tetapi juga wajib mengajak mereka lebih mengenal satu sama lain,” kata warga Tipes tersebut.
Pengalaman Nathaza, Lyonel, dan Fernando menunjukkan bahwa menjadi agen perdamaian tidak harus dimulai dengan langkah besar. Kesediaan mendengarkan cerita teman, menghargai perbedaan, dan berani bersikap ketika melihat ketidakadilan pun merupakan bentuk nyata.
Di lingkungan sekolah, keberadaan agen perdamaian dinilai penting untuk mencegah tiga persoalan yang masih menjadi tantangan dunia pendidikan, yakni kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi.
Direktur Yayasan KAKAK Surakarta Shoim Sahriyati mengatakan, para peserta tidak berhenti belajar setelah intensive course berakhir. Mereka justru akan membawa pengetahuan dan pengalaman tersebut kembali ke sekolah masing-masing melalui berbagai aksi nyata. (ves)
Editor : Kabun Triyatno