Dari Tenun Imagi, Gigih Wiyono Merajut Harapan agar Karya Perupa Terus Dikenal

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:47 WIB
Pameran Tenun Imagi di Galeri Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jumat (9/10/2026). (M. Ihsan/Radar)
Pameran Tenun Imagi di Galeri Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jumat (9/10/2026). (M. Ihsan/Radar) 

RADARSOLO.COM - Sebuah lukisan bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sebelum akhirnya rampung. Namun, perjalanan karya seni tak selalu panjang setelah selesai dikerjakan. 

Banyak karya seni yang hanya dipajang dalam sebuah pameran selama beberapa hari, lalu kembali dibawa pulang. Persoalan inilah yang menjadi perhatian Gigih Wiyono dalam merawat keberlanjutan ekosistem seni rupa.

Kurator Pameran dan Bursa Perupa Alumni ISI Surakarta bertajuk Tenun Imagi itu ingin karya para seniman tidak berhenti setelah pameran usai. Baginya, ruang pamer semestinya menjadi pintu awal agar karya dikenal masyarakat, diapresiasi, hingga menemukan kolektor. Oleh sebab itu, ia bersama rekan-rekan alumni mulai menjajaki keberadaan ruang bersama untuk menyimpan sekaligus memajang karya.

“Kalau pameran ini cuma seminggu, kan sulit. Padahal karya ini dikerjakan bisa tahunan. Makanya, kita harus memikirkan jalan keluarnya supaya karya-karya ini tetap bisa dilihat masyarakat,” ujar Gigih saat ditemui tim Jawa Pos Radar Solo dalam pameran Tenun Imagi di Galeri Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jumat (9/10/2026). 

Baca Juga: Polemik Hak Cipta Patung Kayu di Pameran Tahir Solo Museum: Seniman Tagih Sidang Etik

Pameran yang berlangsung pada 2–9 Oktober 2026 tersebut menjadi ruang perjumpaan para perupa alumni Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Mereka datang dari berbagai daerah dengan membawa karya dan pengalaman masing-masing. Bagi Gigih, mempertemukan kembali para alumni yang telah menempuh jalan kesenian berbeda bukan perkara sederhana.

Kesibukan, jarak, hingga keterbatasan komunikasi menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, para alumni tak lagi tinggal di satu kota. Ada yang menetap di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Kediri, Pacitan, hingga Kalimantan. Bahkan, salah satu alumni, Sumiyati, kini tinggal di Belgia bersama suaminya.

Baca Juga: Lukisan Tiga Generasi Beralas Daun Lontar Hiasi Pameran Sejanur Nusantara di TBJT

Jarak tersebut bukan sekadar persoalan menghadirkan seniman dalam satu acara. Karya yang mereka bawa memiliki nilai dan membutuhkan penanganan khusus. Biaya transportasi menjadi pertimbangan, terlebih ketika lukisan harus dikirim dari tempat yang jauh. Pengumpulan karya pun memerlukan koordinasi agar setiap seniman merasa aman menitipkan hasil kerja yang telah dibuat dengan waktu dan tenaga tidak sedikit.

“Mengumpulkan karya itu sulit karena mahal semua. Kalau ada yang dari Kalimantan atau Bekasi, kita juga harus memikirkan siapa yang bertanggung jawab. Membawa barang seberharga ini tentu perlu perhitungan,” jelasnya.

Baca Juga: Gelar Pameran di 131 Lokasi Serentak, BRI KKB National Expo 2026 Sabet Rekor MURI

Dari persoalan itulah, gagasan menyediakan markas alumni mulai mengemuka. Gigih menyebut, pihak rektorat telah datang berkunjung dan membuka peluang membantu penyediaan ruang di kawasan Kepatihan, lokasi kampus seni rupa terdahulu. Ruang tersebut diharapkan menjadi tempat berkumpul para alumni sekaligus memudahkan pengelolaan karya yang selama ini tersebar di berbagai daerah.

Keberadaan ruang bersama juga dinilai dapat memperpanjang kesempatan masyarakat untuk menikmati karya. Setelah pameran berakhir, karya tidak harus langsung kembali ke tempat asalnya tanpa ada kemungkinan dilihat publik. Jika ruang tersebut terealisasi, karya bisa ditata kembali di galeri alumni sehingga calon kolektor atau masyarakat yang ingin melihatnya memiliki tempat untuk dituju.

“Misalnya setelah ini kita display di galeri kita. Kalau ada orang yang membutuhkan atau ingin melihat, tinggal datang. Jadi, tidak hanya mengandalkan pameran yang berlangsung satu minggu,” tutur Gigih.

Upaya memperluas jangkauan pameran juga tengah dijajaki. Gigih menyebut ada rekan yang menawarkan kemungkinan penyelenggaraan pameran di Perpustakaan Nasional, Jakarta, tepatnya di kawasan Medan Merdeka Selatan. Meski demikian, rencana tersebut masih dalam proses pembicaraan. Persoalan pengiriman dan biaya tetap menjadi pertimbangan sebelum pameran dibawa ke luar daerah.

Di sisi lain, Tenun Imagi diharapkan terus menjadi agenda tahunan di TBJT. Kepastian tempat penyelenggaraan setiap tahun dinilai membantu para alumni mempersiapkan diri, terutama mereka yang tinggal jauh dari Surakarta. Adapun pameran di lokasi lain dapat dikembangkan sebagai upaya memperluas jangkauan karya dan mempertemukan seniman dengan publik yang berbeda.

Nama Tenun Imagi sendiri merepresentasikan semangat yang ingin dirawat melalui pertemuan tersebut. Tenun dimaknai sebagai upaya menyambung dan menganyam kembali hubungan, sedangkan imaji merujuk pada gagasan, impian, serta cita-cita yang mungkin belum sempat diwujudkan. Gigih mengibaratkan para alumni seperti burung yang sesekali meninggalkan sarang untuk menjalani kehidupan masing-masing, tetapi memiliki tempat untuk kembali bertemu.

“Burung itu kadang pergi dari sarang, kemudian pulang lagi. Jadi, ini menjadi sarang untuk ketemu kembali. Lewat Tenun Imagi, kita menyambungkan gagasan dan cita-cita yang dulu mungkin belum tersampaikan,” ungkapnya.

Bagi Gigih, keberadaan pameran juga berkaitan erat dengan pendidikan apresiasi seni. Masyarakat perlu mendapat kesempatan melihat karya secara langsung sebelum memutuskan untuk menyukainya atau mengoleksinya. Selama pameran berlangsung, ia melihat antusiasme pengunjung, termasuk mahasiswa dan anak-anak muda yang datang dalam jumlah cukup banyak. Kehadiran mereka sekaligus menunjukkan bahwa galeri membutuhkan kegiatan yang hidup agar fungsinya sebagai ruang perjumpaan seni dapat berjalan.

Dia menjelaskan, proses seseorang menjadi kolektor tidak selalu berlangsung seketika. Ketertarikan biasanya tumbuh setelah melihat karya, memilih sesuai selera, lalu mempertimbangkan kemampuan finansial. Karena itu, pameran menjadi tahap penting untuk mempertemukan karya dengan calon pembeli. Gigih menilai, hubungan yang terbangun secara berkelanjutan dengan kolektor juga dapat membantu seniman menjaga keberlangsungan praktik berkesenian mereka.

Ke depan, dia berharap dukungan terhadap kegiatan alumni tidak hanya berupa kehadiran dalam pembukaan pameran, tetapi juga kebijakan yang memberi ruang lebih luas bagi karya seni. Salah satunya dengan membuka peluang bagi karya perupa untuk mengisi kantor-kantor pemerintahan maupun ruang publik. Menurut Gigih, dukungan semacam itu dapat menjadi bagian dari sistem yang membantu seniman memperluas apresiasi sekaligus mengembangkan pasar karya mereka.

“Pemerintah daerah maupun pusat bisa melihat bahwa kegiatan para alumni ini perlu didukung. Kalau melalui kebijakan, misalnya kantor-kantor bisa diisi karya seni berukuran kecil, itu sudah cukup membantu. Kita membutuhkan sistem dukungan supaya karya-karya ini punya ruang untuk bertemu masyarakat,” pungkasnya. (hj/nik) 

Editor : Niko auglandy
pameran karya seni isi surakarta