Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Jangan Ada Cabang Olahraga "Aneh" di ASEAN Para Games 2020!

Perdana Bayu Saputra • Jumat, 20 Desember 2019 | 21:36 WIB
Atlet atletik NPC Indonesia Setyo Budi Hartanto tengah berlatih di lintasan atletik Stadion Sriwedari jelang Asean Para Games 2020, kemarin (19/12)
Atlet atletik NPC Indonesia Setyo Budi Hartanto tengah berlatih di lintasan atletik Stadion Sriwedari jelang Asean Para Games 2020, kemarin (19/12)
SOLO – Filipina secara mengejutkan jadi juara umum SEA Games 2019, 30 November hingga 11 Desember kemarin. Padahal pada gelaran sebelum-sebelumnya, untuk masuk jajaran dua besar saja sulit. Kontingen tuan rumah jadi yang terbaik dengan 149 emas, 117 perak, dan 121 perunggu.

Hanya saja, sukses Filipina dibarengi kontroversi. Terutama pemilihan cabang olahraga (cabor) “aneh”. Cabor-cabor tradisional yang tidak masuk klasifikasi Olimpiade coba dijejalkan. Demi asa meraih kasta tertinggi.

Sebut saja cabor arnis. Cabor ini merupakan seni bela diri asli Filipina. Menggunakan properti pedang dan tombak. Dari 20 emas yang diperebutkan, 14 di antaranya disabet kontingen tuan rumah. Lalu cabor obstacle race atau halang rintang yang memadukan latihan dasar militer. Filipina memborong seluruh medali emas yang berjumlah enam keping.

Nah, kekhawatiran ini menghinggapi kontingen National Paralympic Committee (NPC) Indonesia. Jelang bergulirnya ASEAN Para Games (APG) 2020 di Filipina, 18-25 Januari mendatang. Sebab Filipina sebagai host kembali sodorkan sejumlah cabor “aneh”.

Menanggapi fenomena ini, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) NPC Indonesia Rima Ferdianto menampiknya. Dia memastikan cabor-cabor “aneh” tidak dipertandingkan di APG 2020. Sebab mayoritas kontestan dengan tegas menolak.

”Contohnya cabor wheelchair dance (dansa kursi roda) dan three-point shot. Sempat diusulkan dan ditolak semua. Masak iya, three-point shot masuk medali event. Kan hanya games hiburan. Pokoknya cabor aneh-aneh sudah ditolak,” tegas Rima, kemarin (19/12).

Indonesia juga menolak cabor dansa kursi roda. Filipina ngotot memasukkan karena banyak medali diperebutkan. Padahal mayoritas kontestan tidak punya atlet di cabor ini. “Mereka (Filipina) sudah mengalkulasi semua potensi. Tak mungkin bisa jadi juara umum. Target mereka hanya empat besar saja,” papar Rima.

Sementara itu, Thailand jadi rival berat Indonesia. Selain Singapura dan Malaysia. “Analisa kami bisa dapat 100 emas. Kalau Thailand di angka 89 emas. Target Indonesia jelas. Harus juara umum seperti di Malaysia 2017 dulu,” ungkapnya.

Kepala Kontingen Indonesia Andi Herman menyempatkan melihat pelatnas NPC Indonesia yang dipusatkan di Kota Solo. Dia ingin target 100 emas tercapai. Dengan margin error maksimal 15 persen. “Kalau meleset, kami harap meleset ke atas,” tandasnya.

Kontingen Indonesia berkekuatan 550 personel. Sudah termasuk 300 atlet, pelatih, manajemen, tim medis, dan psikolog. Mereka bakal terjun di 16 cabor. (nik) Editor : Perdana Bayu Saputra
#aneh #cabang olahraga #ASEAN Para Games #filipina #sea games