Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Semoga Cerita 98 Tak Terulang, Berharap Kompetisi Musim Ini Berlanjut

Perdana Bayu Saputra • Sabtu, 4 April 2020 | 17:22 WIB
Mantan kiper Persis tahun 1990an, Ratmoko. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)
Mantan kiper Persis tahun 1990an, Ratmoko. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)
SOLO - Semua pecinta sepak bola Tanah Air pasti berharap kompetisi musim 2020 tak sampai dihentikan seperti yang terjadi di musim 1998 maupun 2015. Saat ini, PSSI menetapkan status force majeure dan menghentikan sementara kompetisi Liga 1 maupun Liga 2. Itu sembari menunggu perkembangan situasi, khususnya terkait penyebaran virus korona (Covid-19) di Indonesia.

Ya, jika mebuka lembaran masa lalu, situasi 2020 dengan 1998 memang berbeda. Pada 1998, Persis Solo bahkan harus bimbang. Ini lantaran Persis yang kala itu terjun di kompetisi Divisi I 1998 harus membubarkan tim lebih cepat.

Persis masuk grup Ligina IV Divisi I Grup III bersama Persitara Jakarta Utara, Perseden Pasar, Persiwangi Banguwangi. Persis sempat menjalani laga perdananya melawan Persitara Jakarta Utara di Jakarta, 10 Mei 1998. Kala itu Persis kalah 0-1 atas tuan rumah.

Sayang setelah pertandingan tersebut, tak berapa lama kondisi Indonesia tidak kondusif. Berbagai kericuhan besar di beberapa kota, yang membuat kompetisi harus dihentikkan di akhir Mei 1998. Termasuk Divisi I.

”Yang saya ingat di tahun 1998 mungkin hanya kami (Persis) latihan di Stadion Sriwedari, ternyata harus bubar karena di beberapa titik di Kota Solo sudah pada obong-obongan. Kejadian di Solo merembet hingga ke Jakarta. Enggak lama setelah itu PSSI putuskan untuk menghentikan kompetisi,” ujar Asisten Pelatih Persis Solo Bambang Nugroho di musim tersebut kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Mantan pemain Persis tahun 1980-an tersebut mengakui, usai PSSI memutuskan untuk menghentikan kompetisi, tim Persis juga langsung dibubarkan. Beberapa pemain Persis di era tersebut adalah Totok Supriyanto, Supriyanto “Gaplek”, Tri Guntono, Edi Margianto, Supangat, hingga Ratmoko.

”Sebagain pemain sudah bekerja, ada juga yang masih jadi mahasiswa. Yang mahasiswa itu Ahmad Arief dan Dwi Adi. Saat itu, Persis belum ada gaji. Jadi setelah dibubarkan, ya sudah tak ada apa-apanya. Pemain saat itu masih mengandalkan uang saku, sama bonus kalau habis tanding,” ujarnya.

Sebelum kompetisi, Persis sempat menjalani serangkaian uji coba pramusim. Seperti pada 24 Agustus 1997, Persis menjalani uji coba dengan Arseto. Yang mana Persis kalah 1-4. Persis hanya bisa mencetak gol dari penalti Edi. Selebihnya empat gol Arseto diciptakan oleh Miro Baldo Bento, Nova Arianto, Charles Putiray, dan bunuh diri Totok Supriyanto. Pada uji coba dengan Arseto 27 Februari 1998, Persis  hanya bisa main imbang 1-1. Gol Persis dicetak oleh Nasrul Kotto (17’), yang dibalas oleh Ali Sunaan (27’). (nik/ria)

 

  Editor : Perdana Bayu Saputra
#pssi #persis solo #kompetisi musim 2020 #force majeure #covid-19 #kompetisi dihentikan #sejarah 1998