“Kami memang tetap memasukkan corak batik di jersey Persis, karena ini untuk menggambarkan ciri khas kota Solo yang memang dikenal dengan kebudayaan batiknya,” terang Owner DJ Sport Dimas Yustisia.
Sementara itu, manajemen Persis Solo mengakui sangat berharap animo masyarakat untuk membeli jersey original cukup besar. Hal ini wajar karena dua musim lalu, penjualan jersey Persis bisa dibilang cukup lesu. Salah satu kendalanya tentu saja lantaran Persis harus memutuskan untuk berkandang di Stadion Wilis Madiun selama 1,5 musim.
“Bagaimana pun jersey ini identitas klub. Jadi, kami harap tentu bisa menggambarkan spirit Persis musim ini. Kami berharap animo pembelian jersey Persis bisa cukup baik musim ini,” ujar Manajer Persis Solo Hari Purnomo.
Musim ini, animo pembelian jersey original Persis memang cukup baik. Itu terlihat dari jersey pramusim Persis, ternyata bisa terjual cukup banyak ketimbang klub-klub lainnya. Yang mana jersey pramusim Laskar Sambernyawa terjual hampir 1.000 potong.
Di lain sisi, sejak musim 2019, manajemen Persis memang tak membangun Persis Store secara mandiri. Musim lalu, semua marchendise resmi Persis dijual di Xtreme Radiance. Di mana sang owner, Bogi ditunjuk manajemen Persis jadi CEO Saestu Apparel yang mensupplai jersey resmi kala itu.
Untuk musim ini situasinya tak jauh berbeda. DJ Sport selaku pemilik hak pembuatan jersey resmi Persis jadi satu-satunya yang menjual marchendise resmi Persis.
“Karena pemasukan tak bisa kami dapatkan dari tiket penonton, saat ini satu-satunya pendapatan yang kami andalkan adalah penjualan jersey original,” tutur Hari. (nik/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra