Bahkan, tembang-tembang, seperti Pamer Bojo, Cidro, Banyu Langit, dan lainnya seakan menjadi lagu wajib yang didengarkan skuad Persis di waktu senggang. “Sering didengarkan di mes. Banyak yang suka. Biasanya juga pas perjalanan mau latihan disetel di bus lagunya,” terang winger Persis Solo Hapidin kepada Jawa Pos Radar Solo.
Pria berdarah Sunda tersebut ternyata cukup hapal lagu-lagu Didi Kempot yang sebagian besar berbahasa Jawa. Hapidin tak terlalu sulit mencernanya, sebab dia sudah cukup lama berkarir di klub-klub Jawa Tengah. Selain di Solo, dia pernah bergabung dengan Persibat Batang hingga PSIS Semarang juga.
“Sekarang dengar lagu-lagu Jawa karena sudah terbiasa juga hidup di Jawa. Apalagi karya Pakde Didi Kempot bagus-bagus dan enak didengar juga. Kalau di mes, yang sering dengerin itu Susanto (bek Persis asal Purwodadi),” terang Hapidin.
“Inginnya sih mumpung masih kerja di Solo, pengin banget ketemu. Tapi belum kesampaian,” sambungnya
Pemain asal Bandung ini mengakui terakhir kali menonton aksi Didi Kempot saat menjalani konser mini di Wedangan Radjiman, belum lama ini.
“Walaupun konser mini, waktu itu saking penginnya lihat pakde Didi aku samperin (lokasi acaranya). Aku bela-belain pengen nonton, walaupun dari kejauhan. Rata-rata lagunya (Didi Kempot) aku senang, tapi yang paling seneng yang judulnya Pamer Bojo,” ujarnya.
Hapidin pun kaget bukan kepalang saat mendengar berita tentang meninggalnya sang idola pada Selasa (5/5) pagi. “Aku kaget banget (dengar kabarnya). Sampai aku nggak percaya juga kalau meninggal. Aku langsung cari berita di media dan nyalain TV. Mau cari kebenaran infonya, ternyata benar. Nggak nyangka bangetlah,” pungkasnya. (nik/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra