Ya, dalam dua hari Persija Glory 2001 bertanding dua kali. Yakni melawan Solo Allstar di Lapangan Banyuanyar, Sabtu (8/8) dan kontra Askab Karanganyar di Lapangan Koripan, Matesih, Karanganyar, Minggu (9/8). Dalam tur ini, Persija Glory 2001 diperkuat wajah-wajah yang tidak asing lagi. Seperti Widodo Cahyono Putro, Warsidi, Nur Alim, Anang Ma'ruf, Khair Rifo, Wahyu Teguh, Imran Nahumarury, Budi Sudarsono, dan Gendut Doni Christiawan.
“Tur kali ini tentu kami membawa banyak pesan. Semoga bisa menghibur masyarakat yang ada di Solo dan di Karanganyar. Kami berharap ke depannya sepak bola di kota ini bisa lebih berkembang lagi,” tutur Nur Alim.
Pria yang kini menjadi pelatih Persita Tangerang tersebut mengakui bahwa ke depan, banyak program lebih bermanfaat yang akan dibuat dia dan rekan-rekan seangkatannya.
“Ke depan tentu kami punya program tak hanya latih tanding. Kami juga berharap bisa berbagi ilmu ke daerah-daerah. Apalagi hampir semua pemain kini jadi pelatih, tentu kami ingin menggelar tur, sembari memberi coaching clinic,” sambung Widodo C. Putro.
Tur ini bisa lancar digelar juga karena kompetisi Liga 1 maupun Liga 2 belum kembali digulirkan. Rencananya, kompetisi tersebut dimulai awal Oktober, dengan sejumlah perubahan regulasi. Hal ini juga memancing respons para mantan pemain Persija yang di antaranya kini jadi pelatih. Salah satunya soal regulasi klub yang wajib memainkan pemain muda, khususnya di bawah usia 20 tahun.
”Saya sendiri sepertinya nanti akan mengandalkan pemain yang ada, termasuk memaksimalkan pemain muda-muda saya yang punya kualitas. Adanya regulasi U-20 tentu bagus untuk Timnas kita ke depannya,” ujar Widodo.
Sementara itu, soal regulasi baru tentang tak ada degradasi di kompetisi Liga 1 maupun Liga 2 musim, banyak dicibir legenda Persija. ”Saya menganggap malah itu bisa membuat kompetisi jadi tak kompetitif karena tak ada degradasi. Mau fight juga jadi kurang greget. Tapi dalam situasi seperti saat ini, tentu yang utama adalah kompetisi harus jalan dulu saja,” terang Imran Nahumarury
Asisten pelatih PSIS Semarang tersebut juga tak bisa menampik, situasi yang masih pandemi Covid-19 tentu membuat situasi jadi sedikit kurang bebas. ”Waswas itu tentu wajar. Sekali ada pemain yang kena (corona), kompetisi bisa bubar. Itu juga yang jadi kekhawatiran semua pihak. Semoga kompetisi lanjutan nanti bisa berjalan dengan lancar,” ujarnya. (nik/ria)
Editor : Perdana Bayu Saputra