Dorongan motivasi dan doa mengalur dari seluruh rakyat Indonesia. Termasuk dari para pahlawan olahraga yang pernah tampil di ajang sekelas Olimpiade. Termasuk dari Sprinter Johannes Kardiono. Sprinter asal Kabupaten Sragen ini pernah membela Indonesia di Olimpiade Los Angeles 1984 di Amerika Serikat. Dia terjun di nomor 4x100 meter.
Komposisinya, Kardiono jadi sprinter pertama. Disambung Purnomo, Christian Nenepath, dan terakhir Ernawan Witarsa. “Kami saat itu menduduki ranking 13 dunia,” ujar Kardiono kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (30/7).
Tinggi harapan Kardiono agar para pahlawan olahraga Indonesia bisa mempersembahkan prestasi di Olimpiade Tokyo 2020. “Saya berdoa untuk teman-teman yang ada di Tokyo, agar bisa menyumbang medali untuk Indonesia tercinta. Kalau saya lihat, tahun demi tahun perkembangan pembinaan olahraga semakin bagus. Baik tingkat pusat, provinsi, maupun daerah. Lebih diperhatikan daripada saya dulu,” ujarnya.
Kardiono pernah harumkan nama bangsa, setelah mempersembahkan medali emas di ajang SEA Games 1983 di Singapura. Serta peringkat 15 dunia ajang porseni mahasiswa di Kanada. Sebelum tampil di Olimpiade 1984, Kardiono dkk sempat jalani training center (TC) selama enam bulan di Berlin, Jerman Barat.
“Pengalaman di Olimpiade, ya kita merasakan ketatnya bertanding dengan atlet pilihan dari seluruh dunia. Jadi, kita pada waktu itu harus kerja keras. Karena untuk ikut Olimpiade saja tidak mudah. Prosesnya berat dan panjang,” tandasnya.
Sejatinya, Kardiono nyaris tampil di Olimpiade Seoul 1988 di Korea Selatan. Namun, terpaksa batal lantaran dia terpilih jadi Kepala Desa (Kades) Toyogo, Kecamatan Sambungmacan. Tercatat dia mencabat sebagai Kades selama delapan tahun.
Menurut pendapat Kardiono, perhatian pemerintah untuk olahraga, saat ini lebih baik. “Dulu, meraih medali emas saja tidak ada penghargaan. Apalagi bonus uang. Hanya dijadikan PNS oleh gubernur waktu itu Pak Muhammad Ismail. Sekarang zamannya Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo), atlet yang bawa medali emas dapat bonus Rp 1 miliar,” ujarnya.
Saat ini, Kardiono tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kecamatan Jenar. Masih aktif melatih bibit-bibit muda atletik di Bumi Sukowati (julukan Kabupaten Sragen). Total dia mendidik 22 atlet belia asal Sambungmacan. Bakatnya menurun pada putrinya, Yulita Dian Kardiono yang juara tingkat Provinsi Jawa tengah pada kelompok umur 12 tahun.
“Sebelum pandemi Covid-19 ya masih rutin latihan. Tapi setelah Covid-19 ini, tetap latihan. Seminggu tiga kali di rumah masing-masing,” bebernya.
Diakui Kardiono, cabor atletik kurang greget dibanding lainnya. “Lain dengan sepak bola, bulu tangkis, voli, dan basket. Kalau atletik itu, harus ada kemauan dan dukungan dari orang tua serta pelatih. Tidak bisa latihan semiggu tiga kali. Harus tiap hari, pagi dan sore,” ujarnya. (din/fer/dam) Editor : Damianus Bram