Tiket itu didapat usai mengalahkan wakil Korea Selatan Heo Kwang Hee dengan skor 21-13 dan 21-18 di Musashino Forest Sport Plaza, Sabtu (31/71) pagi WIB.
Di babak 16 besar Cordon sukses menang 2-1 (21-17, 3-21, 21-19) atas wakil Belanda Mark Caljouw. Video pelatih Cordon, yakni Muamar Qadafi ternyata jadi berbincangan. Qadafi usai Cordon menang ternyata langsung mengeluarkan handpohone, dan melakukan selebrasi. Dengan pose selfie, dia berteriak kata “Vamos Guarte”.
Posisinya membelakangi Cordon yang terlihat tengah berselebrasi berteriak sekencang-kencangnya di tengah lapangan. Tak lama Cordon terlihat berlari hendak memeluk Qadafi. Video berdurasi 4 detik tersebut diunggah di akun twitter Komite Olimpiade Guatemala (COG).
Hal menariknya, ternyata hasil manis yang Cordon raih di Olimpiade ternyata ada peran besar sosok pelatih asal Kota Solo di dalamnya. Ya, Muamar Qadafi ternyata diketahui berasal dari Solo dan tercatat adalah jebolan PB Djarum Kudus.
Qadafi ternyata sudah melatih Cordon sejak 2017, hingga akhir langkahnya bisa mencapai di multievent terbaik di dunia yang tengah digelar ini.
Saat Cordon bertanding, Muamar Qadafi terlihat super fokus memantau dan memberi motivasi di belakang Cordon.
Di lansir dari Prensalibre.com, Qadafi ternyata pertama kali bertemu Cordon sekitar tahun 2009 dan 2010. Ini juga jadi kali pertama pelatih Asia tiba di Guatemala dan melatih timnas disana. Sebelumnya dia datang dari Ekuador, melatih klub lokal disana.
Dia baru saja meninggalkan bulu tangkis secara profesional dan mendedikasikan dirinya untuk jadi seorang pelatih. Dia memulai karir sejak 1994 dengan bergabung dengan klub PB Djarum sebagai pemain, dan 2000 menjabat sebagai asisten teknik di klub tersebut.
Pada 2005, ia melakukan lompatan besar. Dimana memutuskan berkarir di Peru. Negara yang jauh tentunya dari rumahnya di Solo.
Cordon ternyata sangat menghormati Qadafi. "Pengalaman Qadafi sangat penting untuk mencapainya. Dia orang Asia, dia tahu olahraganya, dia tahu bagaimana mereka bermain, dia punya banyak pengalaman," kata Cordon yang dilansir dari Prensalibre.com.
Melatih atlet kidal tentu butuh tantangan lebih. Terlebih dia melatih atlet yang berasal dari negara yang dari sisi historis secara prestasi di cabor bulu tangkis belum bisa berbicara banyak.
Guatemala ternyata menurunkan dua wakilnya. Selain Kevin Cordón, ada juga Nikté Sotomayor di tunggal putri.
“Sebagai pelatih, saya senang para atlet dapat mencapai impian mereka. Terima kasih juga atas dukungan komite olimpiade (di Guatemala), federasi bulu tangkis dan rekan kerja saya José María Solís atas dukungan mereka. Kami terus mempersiapkan diri untuk menunjukkan yang terbaik di Olimpiade,” ujar Qadafi dilansir dari website resmi Komite Olimpiade Guatemala (COG.org.gt).
Di lain sisi ternyata banyak penikmat bulu tangkis di Indonesia masih mengenal sosok Qadafi, walau ada juga yang samar-samar mengingat sosoknya seperti apa. “Saya ingat memang sepertinya dulu ada atlet dari Solo namanya Muamar Qadafi, tapi lupa tahunnya. Sudah lama sekali,” terang Ketua PBSI Surakarta Susanto kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.
Pelatih PB Champion Klaten Jan Peter ternyata samar-samar masih ingat sosoknya. Tepatnya saat masih jadi pemain.
“Dia dulu pemain PB Djarum Kudus, tapi gak masuk pelatnas. Dulu pas junior lumayan termasuk bagus prestasinya. Itu tahun 1990an, tapi sampai tahun berapanya saya kurang paham, soalnya beda klub. Sepertinya 1990an sampai 2000,” terangnya.
Jan Peter ternyata belum pernah bertemu di satu lapangan dengan Qadafi, salah satu alasannya karena keduanya beda kelas.
“Saya juga tak pernah ketemu, soalnya saya main double, dia di single. Tapi kalau tidak salah dia sempat main di luar negeri juga, tapi dimana dan kapannya saya kurang tahu. Pas junior lumayan bagus, biasa masuk semifinal dan final juga,” ungkap mantan pemain PB Jayaraya tersebut.
Sayang Cordon gagal melaju ke final. Di babak semifinal, dia menyerah 0-2 (18-21, 11-21) atas wakil Denmark Axelsen Vikton dalam pertandingan 40 menit.
Di babak perebutan perunggu, dia akan menantang wakil Indonesia Anthony Sinisuka Ginting. Dimana Ginting juga gagal di semifinal, usai kalah dari Chen Long (Tiongkok) 2-0 (21-16, 21-11).
Ternyata masih ada satu sosok pelatih asal Solo lainnya yang menukangi tim Olimpiade di luar Indonesia. Selain Qadafi, ada juga sosok Mulyo Handoyo. Dia berstatus pelatih bulu tangkis Singapura di olimpiade.
Bersama Ho Ying Chong, Mulyo Handoyo bertugas untuk memoles sektor tunggal Singapura, salah satunya Loh Kean Yew yang tampil di Olimpiade Tokyo 2020.
Sayang wakil Singapura di cabor ini, tak bisa berbicara banyak. Loh Kean gagal lolos ke babak selanjutnya, usai grup G diwakili oleh Jonatan Christie. Laga perdana Loh menang dari tim pengungsi Olimpiade (Refugee Olympic Team) Mahmoad Aram 2-0 (21-15, 21-12), dan kalah 1-2 (20-22, 21-13, 18-21) dari wakil Indonesia Jonatan Christie.
Menukangi Singapura bukan kali pertama bagi Mulyo Handoyo. Dia pernah dikontrak Federasi Bulutangkis Singapura tahun 2002 hingga 2004.
Nama Mulyo Handoyo mencuat setelah merupakan juru taktik di balik keberhasilan Taufik Hidayat meraih medali emas Olimpiade Athena 2004.
Selain Mulyo Handoyo dan Qadafi, ternyata masih ada pelatih asal Indonesia lainnya yang menukangi tim negara lain di luar Indonesia di Olimpiade, tepatnya dari cabor bulu tangkis. Yakni Indra Bagus Ade Chandra (Belgia), Flandy Limpele (Malaysia), dan Hendrawan (Malaysia).
Di lain sisi Kota Solo tidak punya wakil atlet di Olimpiade Tokyo. Eks Karesidenan Surakarta hanya diwakili oleh Gregoria Mariska asal Wonogiri yang terjun dari cabor bulu tangkis, dan dan pepanah asal Klaten Alviyanto Bagas Prastyadi. Sayang keduanya gagal menyumbangkan medali buat Indonesia setelah beberapa hari lalu gugur jauh sebelum ke babak puncak. (nik/dam) Editor : Damianus Bram