Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Gregoria Mariska di Mata Ortu di Wonogiri: Selalu Kangen Sego Kucing

Syahaamah Fikria • Jumat, 6 Agustus 2021 | 23:49 WIB
Gregoria Mariska Tunjung berfoto bersama kontingen negara lain saat Olimpiade Tokyo 2020. (ISTIMEWA)
Gregoria Mariska Tunjung berfoto bersama kontingen negara lain saat Olimpiade Tokyo 2020. (ISTIMEWA)
Gregoria Mariska Tunjung, gadis asal Wonogiri menyita perhatian publik berkat aksinya di lapangan badminton, termasuk sebagai pemain tunggal putri andalan Merah Putih di Olimpiade Tokyo 2020. Seperti apa sosoknya di mata kedua orang tua?

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri

MINAT terhadap badminton sudah terlihat di diri Gregoria sejak masih kecil. Itu berawal saat Gregorius Maryanto, ayah Gregoria memergoki anaknya serius menatap layar kaca yang menampilkan tayangan Thomas dan Uber Cup 2004 lalu.

"Saat itu usianya masih sekitar lima tahun. Setelah lihat itu, kok katanya pengin namplek (badminton)," kata Maryanto, Kamis (5/8) petang.

Ria, begitu panggilan sayang keluarga terhadap Gregoria, akhirnya pun jatuh hati dengan olahraga badminton. Bersama sang ayah, dia pun kerap bermain badminton di area perumahannya di Perum Griya Cipta Laras, Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri Kota.

Suatu hari, Maryanto mendapatkan kabar bahwa ada kursus badminton di Solo. Dia pun akhirnya mendaftarkan sang putri untuk kursus badminton. Dua kali dalam sepekan, Maryanto mengantar sang putri untuk berlatih.

Tak hanya itu, Jorji sapaan akrab Gregoria, juga sepekan sekali diantar ke rumah pamannya di Klaten untuk berlatih badminton. Maryanto juga melatih sendiri anaknya saat di rumah. Tak masalah bagi Gregoria yang sejak kecil sudah dikenal sangat aktif.

"Melatih Ria di gedung di Bulusulur, modalnya catatan. Saya catat apa yang dilakukan sang pelatih di Solo, kemudian saya latih juga. Mengulang yang sudah dilatihkan," kenang dia.

Pengorbanan bagi sang anak tunggal memang diberikan total Maryanto dan istrinya Fransiska Romana Dwi Astuti. Bagaimana tidak, demi fokus mengembangkan potensi si anak, Maryanto memilih untuk menutup kios plastiknya di Pasar Ngadirojo. Sang istrilah yang meminta agar Maryanto bisa fokus melatih Ria.

"Saya bilang ke bapak, yang penting Ria bisa fokus di satu bidang yang disenanginya. Saya saja yang kerja, bapak fokus ngurus Ria. Saya tidak diurus juga tidak apa-apa," kata Dwi Astuti sambil terkekeh.

Maryanto menceritakan, anaknya didaftarkan di PB Mutiara Cardinal Bandung. Saat itu, gadis kelahiran 11 Agustus 1999 itu masih duduk di kelas IV di SD Negeri Ngadirojo 1. Ya, Ria pindah ke Bandung dan mengikuti homeschooling di sana. Sejak saat itu, sederet prestasi berhasil disabet oleh Jorji alias Ria.

Maryanto mengakui, putrinya jarang pulang ke Kota Sukses. Dia dan sang istrilah yang sering mengunjungi Jorji. Masih ingat betul, Maryanto beberapa kali mengantarkan kartu ATM milik Jorji yang sering hilang. Meski begitu, Jorji kecil dianggapnya anak yang berani.

"Anak cewek masih kecil, tapi sudah berani di sana sendiri. Betah di sana katanya waktu itu," kata dia.

Kedua orangtuanya lebih sering berhubungan dengan Jorji via telepon atau video call, setiap hari. Putrinya terakhir pulang ke Wonogiri pada November lalu. Dwi Astuti menuturkan, saat pulang ke Wonogiri putrinya memiliki makanan klangenan. Sangat sederhana, sego kucing.

Setiap kali akan bertanding, kata Maryanto, Ria selalu memberikan kabar, serta meminta doa restu dan meminta saran dari orang tuanya. Termasuk saat tunggal putri andalan Indonesia itu akan bertanding melawan Ratchanok Intanon, wakil dari Thailand di fase 16 besar Olimpiade Tokyo 2020 pada Kamis (29/7) lalu. Meski menelan kekalahan dua game dengan skor 12-21 dan 19-21, Maryanto tak mempermasalahkan hasil tersebut.

"Kita tidak menarget harus dapat medali. Yang penting Ria main bagus. Musuhnya saat itu juga sulit sih. Kalau mainnya jelek meskipun menang saya marah, tapi kalau kalah mainnya bagus ndak papa, kasih evaluasi," kata Maryanto.

"Nggak harus bawa medali, ini juga olimpiade pertama Ria. Ya itu, yang penting mainnya bagus bapaknya sudah seneng," imbuh Dwi Astuti.

Meskipun kalah di Olimpiade Tokyo 2020, Jorji tetap bisa pulang dengan kepala tegak. Olimpiade pertamanya tetap menjadi pelajaran berharga. Jorji yang dalam peringkat BWF menempati posisi 21 dunia ini masih punya waktu untuk berkembang dan memenangkan sederet kompetisi bergengsi lainnya. Doa kedua orang tuanya pun menjadi bekalnya di setiap pertandingan. (al/ria) Editor : Syahaamah Fikria
#atlet badminton #Olimpiade Tokyo #Gregoria Mariska Tunjung #badminton #wonogiri #Jorji