Sebelum terjun ke dunia sepak bola, saat duduk di bangku SMA Wanti pernah menggeluti bidang pencak silat. Kemudian awal masuk kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS), dia masuk cabang olah raga futsal. Lalu, hampir dua tahun ini dia geluti cabor sepak bola.
“Gabung tim sepak bola Putri Surakarta. Gara-gara tim futsal UNS ikut kejuaraan sepak bola Askot Surakarta di Kota Barat 2018-2019. Setelah itu, saya diajak coach Dede Irawan. Sekarang beliau termasuk pelatih di Putri Surakarta,” bebernya.
Wanti menceritakan, dulu dia tidak terlalu suka sepak bola. Sebab mindsetnya, sepak bola pasti panas-panasan. Terus capek. Lapangannya juga lebih besar daripada futsal. Nah, seiring berjalannya waktu, dia semakin menikmati.
“Tantangannya banyak pasti. Apalagi saya juga masih kuliah dan kerja. Jadi harus pinter-pinter bagi waktu. Tapi saat ini sudah tidak terlalu kejar-kejaran,” tuturnya.
Wanti mengaku memang sempat mengalami masa transisi. Bila sebelumnya menjadi pemain futsal selalu di in door, kini sepak bola di out door.
“Muka saya sampai break out parah. Sebelumnya saya tidak pernah jerawatan separah itu. Sampai saya tidak berani lihat kaca,” ujarnya sambil tertawa.
Namun, di awal tahun ini sudah mendingan. Perjuangan terberat baginya ada menyemangati diri sendiri. Dia harus melawan capek. Sebab menurutnya, keinginan itu tidak cukup kalau tidak diimbangi dengan kemauan yang keras.
Untuk membangkitkan semangat itu, dia juga diberi support oleh ibu dan keluarganya. Kemudian dukungan dari pelatih di Putri Surakarta terutama coach Dede Irawan yang tidak pernah mengeluh dan bosan untuk mengajari dan mendampingi tambahan latihan setiap sore.
“Aku tipikal orang yang kalau sudah terjun di bidang ini ya harus ditekunin. Apapun risikonya, ini pilihan saya. Kemudian saya pengin mengubah opini orang tentang wanita yang berolahraga, khususnya sepak bola. Buktinya sepak bola wanita berkembang pesat,” tegasnya.
Saat ini, Wanti dan tim sedang persiapkan liga Top Score di Jakarta. Nah, ini tantangannya selama pandemi dia dan timnya harus latihan rutin. Jadi dia dan tim ambil tambahan latihan. Juga ada latihan via Zoom Cloud Meetings.
“Bersyukur saya selalu mendapatkan ilmu baru, teman baru, dan lainnta. Sekarang ini di sepak bola Putri Surakarta tidak hanya diajarkan tentang skill saja. Para coach selalu mengingatkan soal agama. Kekeluargaannya luar biasa,” tambah mahasiswa kelahiran Klaten, 21 November 1998. (nis/bun) Editor : Damianus Bram