Baju adat tersebut merupakan karya desainer asal Kota Solo Rory Wardana Poesponingrat. Mengangkat tema “Ratna Mutu Manikam”. “Artinya, kumpulan permata yang berkilau,” ungkap Wakil Sekjen National Paralympic Committee (NPC) Indonesia Rima Ferdiyanto, kemarin (24/8)
Baju itu dikenakan dua atlet pembawa bendera Merah Putih. Yakni atlet menembak asal Solo Hanik Puji Astuti dan atlet atletik asal Bandung Jaenal Aripin. Karena gunakan kursi roda, mereka didampingi sesama atlet, yakni Ajeng Widha Paramitha dan Purwo Adi Sanyoto.
Di belakang mereka, berjalan rombongan para atlet dan ofisial NPC Indonesia. Mereka kenakan jaket yang juga rancangan Rory Wardana. Didominasi warna merah dan putih. Lambang Garuda terbuat dari kuningan tebal, disematkan di dada kanan atas. Bersanding dengan lambang Paralimpiade di dada kiri. Sedangkan di bagian punggung, bergambar peta Indonesia.
Selain itu, Rory Wardana juga menambahkan motif batik parang. Jaket ini biasa dikenakan dalam acara pesta atau kegiatan semiformal. Desainnya cukup sporty, dinamis, dan trendi. Namun tetap memberikan kesan elegan saat dikenakan atlet.
“Kami ikut mempromosikan kebudayaan Indonesia dalam defile Paralimpiade Tokyo 2020. Kami terjunkan 23 atlet di tujuh cabang olahraga (cabor). Kami pasang target satu emas di Tokyo,” imbuh Rima. (nik/fer/dam) Editor : Damianus Bram