“Kalah satu kosong saja. Ketiga tim (peserta semifinal selain Putri Princess WSS) pemainnya lengkap. Terlebih BMIFA dan Bina Sentra diperkuat pemain Liga 1 dan pemain TC timnas. Jadi beberapa pemain yang tak lolos ke Tajikistan langsung bergabung ke timnya. Seperti BMIFA. Sebelumnya memang sudah didaftarkan ikut turnamen ini. Sebagian beberapa pemain senior yang main di liga, seperti dari Persebaya Surabaya dan Bhayangkara Putri yang juga ikut gabung,” terang Sekum Putri Surakarta Dede Irawan kepada Jawa Pos Radar Solo.
Putri Princess WSS sendiri adalah gabungan dari tiga klub, dari tiga kota berbeda. Hasil kolaborasi antara Putri Surakarta, Putri Jakarta, dan Princess Wijaya Saputra FC Subang. Kolaborasi ini menghasilkan klub berama Putri Princes Wijaya Saputra Surakarta (WSS).
“Jadi juara empat kami tetappuas. Karena usaha sudah maksimal dari pemain. Pemain kami sebagian besar masih berusia 14 sampai 18 tahun,” tuturnya.
Di lain sisi, langkah Putri Princess WSS menuju babak final disandung oleh Putri JP di babak semifinal (18/9). Tim ini sukses mengalahkan wakil Solo dengan skor tipis 1-0. Gol Putri JP diraih oleh Almayanti di menit ke-43.
Sementara itu Benteng Muda IFA (BMIFA) keluar sebagai juara di turnamen ini. Dalam final yang berlangsung Minggu (19/9), mereka mengalahkan Putri JP Jakarta dengan angka 2-0. Dua gol BMIFA Putri dihasilkan Nisma Francida pada menit ke-34 dan Widia Safitri menit 46. Kemenangan ini membuat BMIFA menjadi juara perdana dari ajang TopSkor Cup Putri.
Dalam turnamen ini pemain terbaik diraih oleh Nisma Fracida dari BMIFA, dan pencetak gol terbanyak diraih oleh Cici Santika dari Bina Sentra Putri.
Setelah berlangsungnya TopSkor Cup Putri 2021, rencananya akan disambung dengan Liga TopSkor Putri. Bila tidak mengalami perubahan, kompetisi itu diharapkan bisa dimulai pada awal tahun depan. (nik) Editor : Niko auglandy