Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Regulasi Ikut Redakan Tensi Panas Derby Mataram

Niko auglandy • Sabtu, 9 Oktober 2021 | 20:16 WIB
Laga Persis Solo (jersey merah) melawan PSIM Jogja di Stadion Mandala Krida, musim lalu.
Laga Persis Solo (jersey merah) melawan PSIM Jogja di Stadion Mandala Krida, musim lalu.
RADARSOLO.ID - Seluruh pertandingan BRI Liga 1 dan Liga 2 musim ini dilarang menghadirkan penonton ke stadion. Sesuai regulasi yang ditelurkan PT Liga Indonesia Baru, selaku operator dua kompetisi tersebut. Sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang masih berjalan hingga saat ini.

Pengamat sepak bola nasional yang juga dosen Fakultas Ilmu Komuniasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Fajar Junaedi berpendapat, ada sisi positif penerapan larangan penonton datang ke stadion. Terutama jelang laga Persis Solo versus PSIM Jogja di Stadion Manahan, Selasa (12/10) pekan depan.

Regulasi yang termasuk bagian dari protokol kesehatan (prokes) pencegahan penyebaran Covid-19 ini membuat tensi tinggi yang selalu mengiringi Derby Mataram, sedikit mereda. Minimal tidak ada lagi friksi yang terjadi antarsuporter kedua kubu.

”Atmosfer Derby Mataram musim ini agak berbeda. Karena rivalitas yang terbangun sejak lama, kini tidak terjadi lagi. Mengingat pertandingan babak penyisihan Grup C Liga 2 di Stadion Manahan tanpa penonton,” terang pria yang akrab disapa Fajarjun ini, Jumat (8/10).

Kendati demikian, Fajarjun otimistis kedua kubu bakal tampil ngotot sepanjang laga. Mengingat nama besar klub juga ikut dipertaruhkan.  “Tensi pertandingan Derby Mataram di lapangan tetap panas. Mengingat yang bertanding adalah dua tim pendiri PSSI. Keduanya berasal dari kultur yang sama. Dibesarkan dalam kultur kerajaan Mataram,” terang penulis buku Merayakan Sepakbola ini menambahkan.

Meski tensi di luar pertandingan agak mereda, namun tidak menghilangkan budaya saling tebar psywar. Terutama di kalangan suporter kedua kubu. Karena inilah bumbu-bumbu penyedap yang mengiringi setiap laga derby.

“Tensi Derby Mataram selalu tinggi. Sayangnya, sering diwarnai atmosfer perseteruan fisik antarsuporter dalam kurun dua dekade terakhir. Perkembangan media digital membuat konflik semakin membara. Karena memungkinkan penggunanya menciptakan pesan yang menjangkau audiens secara luas,” tuturnya.

Salah satu contoh psywar yang lagi tren, yakni soal pelabelan Mataram is Red dan Mataram is Blue. “Psywar yang dilontarkan, kadang membawa perpecahan antara Solo dan Jogja sebagai pewaris trah Mataram. Di balik itu semua, yang diharapkan adalah tensi tinggi Derby Mataram cukup 2x45 menit di lapangan. Selebihnya jangan,” pesannya. (nik/fer/bun) Editor : Niko auglandy
#psim jogja #persis solo #Persis melawan PSIM #pengamat sepak bola #Derby Mataram #fajar junaedi