Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Perjalanan Panjang Rivalitas Persis Solo dan PSIM Jogja

Niko auglandy • Senin, 11 Oktober 2021 | 08:14 WIB
Photo
Photo
RADARSOLO.ID - Bergulirnya kembali Liga 2 disambut antusias publik bola Kota Bengawan.

Terlebih setelah menanti kejelasan kompetisi setahun lebih,  setelah kompetisi musim lalu dinyatakan vakum karena dampak dari pandemi Covid-19.

Masyarakat Kota Solo sumringah, ketika tahu Persis Solo dan Stadion Manahan didapuk jadi host babak penyisihan Grup C Liga 2 2021. Dan makin bergairah setelah di grup ini terdapat rival abadi: PSIM Jogja.

Kisah perjalanan sepak bola di tanah Mataram yang melibatkan Kota Solo dan Jogja begitu panjang. Bahkan, rivalitas antara Laksar Sambernyawa –julukan Persis Solo– dengan Laskar Mataram (sebutan PSIM Jogja) sudah berjalan hampir satu abad. Tak mengherankan, bumbu-bumbu friksi dan pertaruhan gengsi selalu tersaji dalam pertandingan berbalut Derby Mataram tersebut.

Saking kentalnya rivalitas kedua tim, stadion manapun yang jadi venue pertandingan selalu dipenuhi lautan manusia. Kalaupun pertandingan sempat digelar dalam kondisi sepi,  itu artinya ada larangan laga dihadiri oleh penonton atupun suporter, seperti yang terjadi di Liga 2 2021.  Atau bisa juga  sepi dukungan terjadi,  salah satunya seperti kasus komunitas suporter di kota tersebut memutuskan untuk memboikot dukungannya kepada klub di kotanya karena suatu alasan tertentu. Seperti yang dilakukan Pasoepati kepada klub Persis Solo versi PT Liga Indonesia di musim 2011/2012.

Hasil penelusuran arsip-arsip koran tempo dulu yang berhasil dirangkum Jawa Pos Radar Solo, perseteruan kedua kubu bahkan sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda.

Di era sebelum Indonesia merdeka, klub asal Kota Bengawan dan Jogja cukup sering bertemu di lapangan hijau. Minimal tiap pekan, ada saja pertandingan yang melibatkan klub-klub lokal dari dua kota itu. Khusus Persis dan PSIM, dalam setahun bisa bertemu lebih dari dua kali. Baik di ajang kompetisi resmi maupun sebatas laga uji coba.

Salah satu artikel soal sepakbola Solo dan Jogja ditemukan dalam Koran Darmokondo. Isinya menceritakan pembentukan Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) yang kini bernama Persis Solo pada akhir Maret 1923. Klub-klub lokal pendiri VVB kemudian menggelar sebuah laga amal di lapangan Alun-Alun Kidul Surakarta. Tepatnya pada April 1923. Turnamen ini juga melibatkan klub lokal asal Jogja.

Turnamen dibuka pertandingan antara Mars Solo melawan DOM Jogja pada 7 April 1923. Sehari berselang, giliran Romeo Solo melawan DED Jogja. Disusul laga antara De Leeuw Solo kontra Pasoepati Jogja, 9 April 1923. Serta Legion Solo versus Hizbul Wathan Jogja, 10 April 1923.

Enam tahun berselang atau tepatnya 5 September 1929, PSIM Jogja didirikan. Sayang belum ada catatan yang Jawa Pos Radar Solo temukan, soal kapan pertama kali PSIM dan Persis bertemu.

PSIM dan Persis kemudian menginisiasi pembentukan PSSI pada 1930. Memeriahkan pembentukan federasi, digelar turnamen mini. Melibatkan VVB (nama awal Persis), PSM Mataram (nama perdana PSIM Jogja), VIJ (yang kini dikenal dengan nama Persija Jakarta), dan SIVB Surabaya yang merupakan cikal bakal Persebaya.

Sayang, Persis dan PSIM belum sempat berjumpa di turnamen tersebut. Sesuai hasil undian, Persis Solo berjumpa Persija dan menyerah 1-3. Sedangkan PSIM bertemu SIVB Surabaya dan berakhir imbang 1-1.

Duel perdana Persis dan PSIM di kompetisi PSSI, baru tersaji di lapangan Alun-Alun Kidul Surakarta, 1931 silam. Inilah kompetisi resmi pertama di bawah naungan PSSI. Sayang, bond kebanggaan wong Solo menyerah dengan skor telak 1-4.

“Pasangan Solo menyedihkan. Jalannya pertandingan tidak memuaskan, dan sedikit ada permainan kasar. Melihat jalannya pertandingan, lebih patut berakhir 1-2,” tulis artikel di koran Aksi yang mereportase jalannya pertandingannya tersebut.

Persis Solo juga sempat merasakan euforia juara kompetisi PSSI di Kota Jogja. Tepatnya di era Perserikatan 1939. Saat itu, laga digelar di lapangan Asri. Kompetisi dimulai ketika PSIM menang 2-0 atas Bandung.

Di hari kedua, giliran Persis menang telak 3-0 atas Bandung. Di pertandingan terakhir, Persis berhasil menahan imbang PSIM 2-2. Hasil ini lebih dari cukup menempatkan Laskar Sambernyawa sebagai juara. Karena produktivitas golnya lebih baik dari PSIM. (nik) Editor : Niko auglandy
#liga-2 #psim jogja #persis solo #Derby Mataram #Sejarahbola