“Dapat dikatakan bahwa dulunya, sebenarnya kedua klub ini saling mendukung dari segi organisasi. Apalagi kedua klub klub ini termasuk dalam tujuh klub pendiri PSSI,” ujar pengamat sejarah sepak bola era kolonial Ferry Widyatama kepada Jawa Pos Radar Solo.
Fery juga mencatat bahwa keterkaitan antara kedua klub ini terjadi pada saat peresmian Stadion Sriwedari di Kota Solo, 1933 silam. Dimana setelah dilaksanakannya pidato oleh R. Ng. Reksodiprojo dilanjutkan dengan diadakannya sebuah pertandingan antara PSIM melawan Persis.
“Uniknya, dulu kedua klub ini malah sering sekali mengadakan sebuah pertandingan sepak bola yang salah satunya juga mengundang klub-klub anggotanya masing-masing. Salah satunya ialah ketika PSIM Mataram mengadakan sebuah turnamen sepak bola untuk memperingati hari ulang tahun Paku Alam dengan mengundang anggota Persis Solo, yaitu Romeo,” tuturnya.
Persaingan dan pertandingan sarat gengsi semakin melekat ketika Persis Solo dan PSIM Jogja bertemu di lapangan hijau yang sama. Tak salah jika akhirnya predikat "Derby Mataram" jadi penggambaran atas terselenggaranya laga kedua tim tersebut. (nik) Editor : Niko auglandy