Pengamat sepak bola nasional Fajar Junaedi salah satu yang kurang sependapat dengan rencana tersebut. Menurutnya, pandemi Covid-19 masih berlangsung. Sangat berisiko jika dipaksakan penonton hadir ke stadion.
“Sebaiknya jangan terburu-buru. Kita punya pengalaman buruk ketika (Covid-19) varian Delta menjadi gelombang pandemi Covid-19 yang menakutkan dan mematikan,” terangnya, kemarin (22/10).
Pria yang akrab disapa Fajarjun ini menambahkan, masih banyak hal yang harus diprioritaskan saat ini. “Terpenting liga berjalan dengan sukses sampai akhir musim. Apalagi saat ini masih dalam suasana ketidakpastian akibat pandemi. Berhadapan dengan ketidakpastian, manajemen risiko harus menjadi pertimbangan utama,” pesannya.
Penulis buku Merayakan Sepakbola: Fans, Identitas, dan Media ini menyebut ada kompensasi lain yang harus ditanggung penonton. Yakni biaya tiket masuk pertandingan yang meroket. Karena selain wajib dua kali vaksin, calon penonton harus menjalani skrining melalui tes Covid-19. Dan biayanya kemungkinan ditanggung penonton.
“Syarat tes antigen juga akan memberatkan bagi penonton. Apalagi kondisi ekonomi sekarang belum cukup baik akibat pandemi berkepanjangan,” tutur dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut.
Di mata Fajarjun, alangkah baiknya kompetisi tetap digeber tanpa penonton hingga akhir musim. Sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam pembatasan mobilitas dan mencegah kerumunan massa.
“Sehingga musim depan kondisinya lebih baik. Dengan demikian, penonton aman dan nyaman masuk area stadion. Tentu tetap menaati protokol kesehatan yang berlaku,” pesannya. (nik/fer/dam) Editor : Damianus Bram