Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Historis Tinggi, Museum Lebih Layak di Balai Persis

Damianus Bram • Jumat, 11 Februari 2022 | 13:45 WIB
BERSEJARAH: Warga melintas di depan Balai Persis, kemarin (161/). Rencananya, tempat ini akan jadi jujukan dalam program sport tourism yang digaungkan pemkot dan manajemen Persis. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
BERSEJARAH: Warga melintas di depan Balai Persis, kemarin (161/). Rencananya, tempat ini akan jadi jujukan dalam program sport tourism yang digaungkan pemkot dan manajemen Persis. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
SOLO – Persis Solo sudah mendapat restu Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka untuk membangun museum di Stadion Sriwedari. Pastinya, niatan tersebut menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Terutama penentuan lokasi museum.

Manajemen Persis mengklaim museum layak dibangun di Stadion Sriwedari. Karena Laskar Sambernyawa memiliki ikatan sejarah dengan stadion yang dibangun pada 1933 tersebut. Tepatnya satu dekade setelah Persis berdiri pada 1923.

Selain itu, Stadion Sriwedari cukup lama menjadi homebase Persis. Bahkan, tercatat beberapa kali bond kebanggan wong Solo ini meraih gelar juara kompetisi nasional di stadion tersebut. Sayangnya, banyak pihak kurang setuju jika manajemen Persis membangun museum di kompleks Stadion Sriwedari.

“Kalau dibilang, lebih layak membangun museum di Balai Persis. Memang saat ini sangat kurang sekali penataannya. Dulu pada 2015 saya pernah mengunjungi Balai Persis. Sayang sekali piala-pialanya tidak diurutkan sesuai tahunnya,” terang pegiat sejarah Persis Solo Fery Widyatama, Kamis (10/2).

Fery menambahkan, kekurangan Balai Persis adalah lahannya yang terlalu sempit. Alhasil penataan puluhan trofi yang pernah diraih, terkesan ala kadarnya. Itu pun beberapa trofi tidak menyertakan nama turnamen atau kompetisi, hingga waktu pelaksanaannya.

“Di sana (Balai Persis) hanya terdapat satu ruangan saja. Jadi perlu perbaikan dan desain yang modern, sebagai awal merintis klub profesional,” imbuhnya.

Ditanya pantas atau tidak Persis membangun museum pribadi, seperti yang dilakukan klub-klub mapan di Erupa, Fery mantab menjawab layak. Penulis buku VVB Solo Untuk Indonesia Merdeka tersebut mengaku sudah waktunya Laksar Sambernyawa memiliki museum pribadi. Menurutnya, Persis sudah menunjukkan tren positif dari sisi prestasi.

Paling gres, Persis champions Liga 2 musim kompetisi 2021. Ketika trofi juara di bawa pulang ke Kota Bengawan. Ada kesan manajemen kebingungan, mau disimpan di mana trofi tersebut. Belum lagi, jika ke depan berhasil menambah trofi-trofi yang lain. Akhirnya, trofi itu sementara di-display di Persis Store.

“Secara sisi historis Persis Solo merupakan salah satu klub legenda di Indonesia. Meskipun, dalam beberapa dekade setelah kemerdekaan meredup. Namun seiring usia klub yang hampir 100 tahun, saya rasa Persis layak membuat museum.

Perlu diingat, Persis pernah meraih kejayaan di era Perserikatan. “Salah satu klub dengan segudang prestasi di masa kolonial Belanda. Tujuh kali juara stedenwedstrijden (kompetisi Perserikatan),” beber pria asal Sidoarjo, Jawa Timur tersebut. (nik/fer) Editor : Damianus Bram
#Balai Persis Jadi Museum #balai persis #museum persis #Fery Widyatama #Museum Persis di Stadion Sriwedari