Sejak awal Mustakim memasang target cukup tinggi di pesta olahraga multievent terbesar se Asia Tenggara tersebut. Seperti penuturan kakak kandung Mustakim, Ngatmi saat dijumpai Jawa Pos Radar Solo di kediamannya, Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Klaten, kemarin sore.
“Sebenarnya targetnya emas. Tapi meskipun hanya meraih medali perak, tetap bisa menyumbangkan sesuatu untuk kontingen Indonesia. Capaian sampai segitu, saya mengucap syukur,” ucap Ngatmi sembari meneteskan air mata bangga.
Ngatmi menambahkan, keluarga besar Mustakim sempat menggelar nonton bareng (nobar) partai final dari kediamannya. Termasuk kedua orang tua Mustakim, pasangan Samiyem-Paini Kisma Suwita. Harusnya, Mustakim berpeluang meraih emas. Sayang, poinnya disunat 10, hingga akhirnya didiskualifikasi.
Kejadian bermula ketika pelatih Mustakim, yakni Bondan mendapatkan kartu kuning dari wasit. Diduga karena memprotes kepemimpinan pengadil pertandingan. Salah satu pengurus silat Indonesia turun dan berargumen dengan Bondan. Higgga akhirnya meminta Bondan keluar lapangan. Beberapa pelatih dan atlet Indonesia lainnya juga mencoba menenangkan Bondan.
Hingga akhirnya, kartu kuning dilayangkan pengadil ke Bondan. Insiden antara Bondan dengan Benny, seolah memengaruhi performa Mustakim. Dia sejatinya sempat unggul jauh 59-50. Andai bisa menuntaskan hingga detik akhir, dipastikan medali emas di tangan.
Namun Mustakim dianggap melakukan pelanggaran berat terhadap pesilat Malaysia. Karena kakinya tersangkut di leher Khairi Adib. Alhasil dia mendapatkan pengurangan 10 poin. Situasinya berbalik jadi tertinggal dan dinyatakan kalah 49-50 atas Khairi Adib.
“Kejadian itu yang membuat ibu (Samiyem) menangis. Mungkin Allah SWT sudah mengatur, rezekinya sampai di situ. Ya tidak apa-apa, kami terima,” imbuh Ngatmi.
Usai laga partai final, Ngatmi mencoba menghubungi adiknya. Selama percakapan, Mustakim sempat meminta maaf kepada kakak dan kedua orang tuanya. Karena tidak bisa meraih medali emas SEA Games.
“Saya terus memberikan semangat kepada Mustakim. Apalagi perjalanan Mustakim sudah sampai di partai final. Harapan saya, Mustakim semakin sukses dan terus berprestasi. Apa yang dicita-citakan dia bisa tercapai. Biar hidup mapan dan mendapatkan pekerjaan yang pasti,” beber Ngatmi.
Ibunda Mustakim, Samiyem mengaku tidak bisa tidur selama tiga hari. Karena terus memikirkan anaknya yang akan bertanding di final. Bahkan, dia harus memupuk mental dan memberanikan diri, untuk sekadar menonton final tersebut.
“Dada saya rasanya seperti mau copot (saat menyaksikan pertandingan). Semoga sukses dalam kejuaraan pencak silat selanjutnya,” hemat Samiyem yang sehari-harinya bekerja mencari pakan ternak tersebut.
Sementara itu, Ketua Pengurus Kabupaten (Pengkab) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Klaten M. Nasir mengapresiasi capaian Mustakim. “Semoga hasil ini bisa memacu motivasi pesilat lainnya untuk berprestasi,” imbuhnya.
Di sisi lain, Mustakim dipanggil memperkuat Indonesia di SEA Games karena segudang prestasi yang prnah diukirnya. Di antaranya medali emas PON XX Papua 2021, medali perak SEA Games Filipina 2019, medali emas World Beach Pencak Silat Championship 2019 di Thailand, hingga medali emas di Belgia Open 2019. (ren/nik/fer) Editor : Damianus Bram