Popda Jateng yang digelar di Semarang selama sepekan, telah usai hari ini (20/7). Kota Solo menjadi yang teratas dengan perolehan 29 emas, 31 perak dan 25 perunggu. Di bawah Solo, ada Kota Semarang dengan 24 emas, 21 perak dan 30 perunggu. Kemudian, peringkat tiga Popda Jateng diduduki Kota Salatiga dengan capaian 11 emas, 9 perak dan 14 perunggu.
Kabid Keolahragaan Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng Aria Chandra Destianto mengatakan, Popda Jateng 2022 menjadi pengobat rindu, saat event olahraga banyak ditunda karena pandemi Covid-19. Menurut dia, ajang Popda ini sekaligus ini menjaring atlet-atlet berprestasi Jateng menuju Popwil dan Popnas.
"Popda ini harapannya bisa menelurkan bibit atlet potensial, karena kita tahu dua tahun tidak ada pelaksanaan. Euforianya luar biasa kemarin, kita menemukan beberapa bibit atlet potensial, " tutur Aria, Rabu.
Dari ajang olahraga yang diikuti 3.333 atlet ini telah bisa dilakukan pemetaan atlet-atlet berbakat . Akan tetapi, hal itu masih akan dievaluasi bersama pengurus cabang olah raga, baik di provinsi ataupun di kota / kabupaten.
Aria menyebut, beberapa atlet potensial berasal dari olahraga unggulan Jateng. Di antaranya voli, renang, wushu dan taekwondo. Dia pun mengapresiasi atlet-atlet Kota Solo yang berhasil mencetak prestasi hingga menjadi juara umum.
"Pembinaan di Solo pesat, dari kabupaten/kota merekrut di beberapa kota ada PPLOD (Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Daerah) ada SKO (Sekolah Khusus Olahraga) juga di Solo juga, bisa menjadi tolok ukur pembinaan cukup berhasil," urai dia.
Terkait evaluasi di Popda Jateng 2022, Aria menyebut ada beberapa hal. Di antaranya ada atlet dari beberapa daerah yang tidak sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. Namun, hal itu menurut Aria sudah teratasi dan tidak mengganggu jalannya sportivitas ajang tersebut.
"Kita ingin cari bibit unggulan untuk event nasional dan internasional, ini tolok ukur, jadi evaluasi dan bahan masukan pelaksanaan ke depan terutama untuk pencarian bibit atlet unggulan," pungkas Aria. (bay/ria) Editor : Syahaamah Fikria