Sepanjang turnamen yang diselenggarakan di Edutorium UMS, Ukun tampil gemilang. Total dia memprsembahkan dua medali emas. Di pertandingan beregu putra, Minggu (31/7), pasangan Ukun/Hafizh Briliansyah Prawiranegara menekuk wakil Vietnam Bui Minh Hai/Nguyen Van Thuong dua set langsung (21-5 dan 21-13).
Emas kedua diraihnya di sektor tunggal putra. Di final, dia mengalahkan kompatriotnya Maman Nurjaman, dalam all Indonesian final, Jumat (5/8), dengan skor 21-19 dan 21-10.
Ukun Rukaendi sebenarnya berpeluang menambah emas di sektor ganda putra SL3-SL4. Namun Ukun dan pasangannya, Susanto kalah dari rekan senegara Dwiyoko/Fredy Setiawan, rubber set 21-14, 15-21, dan 21-10.
“Multi-event kelas single ini mungkin turnamen terakhir saya. Selain karena usia, juga sudah ada penerusnya. Salah satunya Maman Nurjaman. Tapi untuk kelas double, fokus di satu nomor saja. Karena usia sekarang sudah berat kalau main dua nomor,” ungkap Ukun.
Sebelum gantung raket, pria kelahiran 15 Januari 1970 ini mengapresiasi perhatian pemerintah danNPC Indonesia. “Selama pandemi kami selalu latihan. Sementara pertandingan tidak ada, sehingga membuat kami jenuh. Karena itulah kami berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo, karena bersedia menyelenggarakan APG XI. Padahal persiapannya sangat singkat,” ujarnya.
Sementara itu, tim Indonesia tampil superior di cabor para badminton . Total meraihan 13 emas, 9 perak, dan 8 perunggu. Ukun menegaskan, motivasi terbesar para atlet disabilitas, yakni ingin mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional.
“Ini kesempatan terbaik kami untuk membuktikan diri. Selain itu, main di Indonesia selaku tuan rumah, juga berpengaruh besar,” tandas PNS di Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Tasikmalaya ini. (nik/fer/dam) Editor : Damianus Bram