Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Kejurnas Shorinji Kempo Piala Walikota Surakarta Tulus Widajat menuturkan, kontingen yang kalah, sudah tidak bertanding, atau masih menunggu timnya bisa keliling dan menikmati Kota Solo. Jadi, ajang ini juga bertujuan untuk mengenalkan Kota Solo.
Menurut Tulus, pariwisata menjadi motor penggerak perekonomian kota. Salah satunya dengan program sport tourism. “Jadi, olahraga menjadi magnet agar orang datang ke Solo. Ketika mereka sudah ke Solo, akan disuguhkan kebudayaan dan potensi Solo lainnya,” ungkapnya
Kejurnas kempo sendiri diikuti 676 peserta dari 54 kabupaten/kota. Termasuk hadirnya satu negara tetangga, yakni Kamboja yang turut datang ke Solo untuk mengikuti kejuaraan ini.
Sekretaris Umum Panpel Kejurnas Shorinji Kempo Piala Walikota Surakarta Muhammad Rudizanto menambahkan, kejuaraan ini juga berkolaborasi dengan pameran UMKM. Sehingga berdampak positif, termasuk ekonomi. “Sabtu (10/9), ada gala dinner, jadi kontingen bisa merasakan kuliner khas Solo,” ujarnya.
Rudi mengakui mendapatkan komentar positif dari para kontingen tentang Kota Solo. “Maunya semua berbondong-bondong datang ke Solo. Solo yang ramah, nyaman, makanan serba murah, dan enak. Kebanyakan kontingen berkomentar Solo luar biasa dan istimewa,” bebernya.
Sementara itu salah satu peserta kejuaraan asal Kabupaten Sorong, Janet Marisan, 19, menyadari Kota Solo itu menurutnya cukup bersih, dan asri. Dia juga mengakui masyarakatnya sangat ramah. Dia akui suasana Jawa masih benar-benar terasa. “Alami sekali Solo itu. Kalau ada kesempatan ingin sekali keliling kota Solo,” ujarnya. (nis/nik) Editor : Niko auglandy