Mural ini dibuat komunitas SoloIsSolo, Rabu malam (5/10). Komunitas ini berisikan para muralis yang selama ini memberikan suasana penuh seni di koridor Gatsu, tak jauh dari Pura Mangkunegaran. Proses pembuatan mural ini dimulai pada pukul 20.00 WIB. Selama kurang lebih dua jam, para muralis membuat gambar para suporter yang sedang berangkulan.
Dalam visualisasi karyanya, ada delapan kelompok suporter yang digambarkan sedang berdoa untuk tragedi di Kanjuruhan. Kelompok ini terdiri dari perwakilan suporter PSIS Semarang, PSS Sleman, Persis Solo, PSIM Jogja, Arema FC, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Persib Bandung.
Selama proses seni para muralis SoloIsSolo, perwakilan suporter juga turut hadir. Bahkan ada perwakilan pendukung PSIM juga yang sengaja datang dari Kota Gudeg, khusus untuk melihat pembuatan karya tersebut.
Sepanjang pembuatan mural ini, puluhan lilin terus dinyalakan, dengan syal Arema FC ada di atasnya. SoloIsSolo juga membunyikan lagu "Indonesia Pusaka" menggunakan pengeras suara.
Setelah mural jadi sekitar pukul 22.00 WIB, perwakilan suporter diminta meninggalkan pesan di tembok tersebut. Mereka menulis menggunakan spidol berwarna emas.
Tulisan itu berupa harapan setelah Tragedi Kanjuruhan yang merenggut nyawa sekitar 125 orang. SoloIsSolo juga memperbolehkan jika tulisan itu berupa nama dari setiap kelompok suporter.
"Beberapa teman muralis ini berasal dari berbagai kota dan latar belakang. Ada Jakmania, Bonek dan lain-lain. Kami bikin bersama-sama untuk memperingati sekaligus menyuarakan pesan damai untuk sepak bola Indonesia," ujar Koordinator Program SoloIsSolo Irul Hidayat.
Koridor Gatsu merupakan salah satu jalan dengan lalu lintas terpadat di Kota Solo. Ada ribuan kendaraan yang lewat setiap harinya. Irul berharap kehadiran mural ini bisa menjadi cara efektif untuk sosialisasi ke warga.
"Mural itu seni publik yang efektif, karena ribuan orang melintasi jalan ini, otomatis juga melihat. Dengan adanya mural ini pesannya bisa efektif tersampaikan ke publik dan nantinya bisa berimbas positif," tutur Irul.
SoloIsSolo berharap kedepannya sepak bola Indonesia bisa berjalan dengan damai. Tak ada lagi tragedi maut seperti halnya terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, 1 Oktober lalu.
"Sudah saatnya teman-teman suporter mengakhiri rivalitas yang kebablasan ini. Rivalitas boleh tapi hanya 90 menit di lapangan, selebihnya kita saudara," harapnya.
Aktivitas yang ada di dinding mural ini tak hanya akan berhenti pada Rabu malam saja. SoloIsSolo berharap para suporter bisa beraktivitas bersama melalui dinding ini.
Di mural ini, digambarkan ada delapan suporter yang saling berangkulan. Kedepan, diharapkan suporter yang logo klubnya belum ada di dinding ini bisa ikut memasang menggunakan sticker.
"Silakan kalau mau menuliskan pesan, atau menempelkan stiker klub kebanggaanya di sekitar mural ini," lanjut Irul.
Sebelum mural ini dibuat, Pemkot Solo sudah mengizinkan pemasangan baliho besar "Mataram Is Love" di depan pintu selatan Stadion Manahan Solo.
Baliho ini terdapat logo tiga klub yang suporternya sudah deklarasi damai pada 4 Oktober lalu. Logo tiga klub tersebut adalah PSIM, PSS Sleman, dan Persis Solo.
Perdamaian ini merupakan salah satu hikmah yang dirasakan atas Tragedi Kanjuruhan. Rivalitas tiga klub ini sudah terjadi bertahun-tahun dan banyak korban berjatuhan. Kini, ketiga kubu sepakat untuk berdamai. (nik/dam) Editor : Damianus Bram