Catatan ini kalah jauh dari wakil tuan rumah, yang mana Wushu Kota Salatiga sukses mengalungi 23 emas, 19 perak, dan 15 perunggu. Disusul Garuda Emas Semarang dengan pencapaian 16 emas, enam perak, serta enam perunggu.
"Sudah sesuai target tapi belum maksimal. Akan kami benahi di event-event selanjutnya, agar prestasinya bisa lebih baik lagi," beber Pelatih Sasana Wushu Purwa Aldaka Solo Santoso Harjanto kepada Jawa Pos Radar Solo.
Kompetisi yang lama vakum karena pandemi, tentu mempengaruhi performa pemain. Mengingat para atlet sebelumnya lebih seruing mengikuti kejuaraan daring, dan ketika harus bertanding secara offline, tentu situasinya berbeda. Mental yang berbicara tentunya.
"Tentang mental anak juga ditanyakan sama orang tua murid. Karenanya, kami akan melakukan simulasi berkala. Selain itu, anak anak juga bisa tampil di luar sasana, seperti di event-event sekolah atau lainnya," pungkasnya.
Tak mau puas, Santoso bakal menambah materi tanding, sehingga targetnya bisa lebih maksimal. Kedepannya masih ada seleksi daerah (selekda) untuk atlet senior, siapapun yang lolos bakal membawa nama Jawa Tengah dalam Pra Pekan Olahraga Nasional (PON).
"Hanya saja belum tahu tempat dan waktunya. Selain itu, ada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Pati September tahun depan. Kalau cabang olahraga (cabor) wushu rencana digelar di Rembang," bebernya.
Jangka waktu persiapan bisa dibilang panjang. Dalam interval tersebut, Santoso akan memaksimalkan perannya kepada para muridnya. Nampaknya, akan tidak ada hari tanpa latihan.
"Kami ada dua kelas. Kelas reguler untuk olahraga dua kali seminggu. Kalau kelas prestasi untuk atlet setiap hari latihannya," jelasnya. (nis/nik) Editor : Damianus Bram