Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mengenal Parkour Spartarun Solo: Tak Sekadar Fisik, Melatih Berpikir Cepat Ambil Risiko

Damianus Bram • Selasa, 18 April 2023 | 15:00 WIB
ATRAKTIF: Salah satu aksi olahraga parkour melompat di antara gedung menjulang. (DOK PARKOUR SPARTARUN SOLO)
ATRAKTIF: Salah satu aksi olahraga parkour melompat di antara gedung menjulang. (DOK PARKOUR SPARTARUN SOLO)
RADARSOLO.COM - Parkour seringkali dianggap sebagai olahraga ekstrem. Karena melibatkan pikiran matang, latihan fisik dan teknik. Sangat cocok untuk melatih fokus, menguatkan otot dan stamina tubuh. Bagi Spartarun Parkour ini bukan hanya sekadar olahraga.

SEPTIAN REFVINDA, Solo, Radar Solo

Masih ada anggapan olahraga parkour sebagai olahraga ekstrem. Gerakan-gerakan yang lincah, melompat di ketinggian yang tidak biasa, atau melewati banyak rintangan, membutuhkan nyali besar.

Bayangkan saja, dalam olahraga ini, para praktisi parkour harus berlari, melompat, atau bergelantungan di antara gedung-gedung yang tinggi. Mirip Spiderman. Bedanya, spiderman menggunakan jaring laba-laba, sedangkan para praktisi parkour cukup dengan tangan kosong. Maka tak jarang banyak orang yang mengira bahwa olahraga ini cenderung ekstrem dan memacu adrenalin.

“Saya sih tidak menyalahkan orang-orang yang berkata parkour itu ekstrem, dan kadang dipandang olahraga yang menakutkan karena gerakannya yang loncat-loncat dari satu tempat ke tempat lainnya,” ujar Muhammad Fathurrahman Amin, ketua Parkour Spartarun Solo.

Namun dia mengaku tidak begitu suka label semacam itu. Baginya, parkour lebih dari sekadar kegiatan fisik. Baginya parkour merupakan olahraga yang menantang, karena membutuhkan kecepatan berpikir, kelincahan dan kekuatan badan serta mental.

“Bayangkan saja kalau tidak bisa berpikir secara cepat, akan bahaya pindah dari satu tempat ke tempat lain. Secara mental para pelaku parkour juga jauh lebh berani. Kalau mau loncat tidak berani bisa bahaya juga,” imbuhnya.

Fathur mengatakan, awal mula berdirinya komunitas tersebut terinspirasi dari film di televisi. Berawal dari lima orang, komunitas ini lahir sejak tahun 2008 lalu. Jumlah peminat parkour semakin bertambah, mencapai sekitar 13 orang. Sehingga Zamroni pendiri awal komunitas ini mulai merasakan kebutuhan agar dibentuknya sebuah organisasi yang lebih terstruktur.

Maka berdirilah Spartarun Solo, yang saat ini komunitas tersebut sudah tumbuh sekitar dua kali lipat dari jumlah anggota awalnya. Fathur adalah ketuanya untuk periode ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Spartarun juga menghadiri Jamming Nasional (Jamnas) di berbagai kota.

Selain itu, meski tampak berbahaya, olahraga ekstrem memiliki banyak manfaat. Di antaranya bisa melancarkan produksi hormon, melancarkan peredaran darah ke otak, menguatkan otot tangan, melatih konsentrasi, hingga menghilangkan stress.

“Komunitas parkour Spartarun Solo secara tidak langsung melatih mental dan keberanian anggotanya. Mental anggota diuji di sini, seberapa berani mereka mengambil risiko dan seberapa cepat mereka berpikir untuk memutuskan tindakan, jadi bukan hanya fisik saja,”  bebernya.

Menurut dia, semua gerakan-gerakan dasar harus dilaksanakan berulang-ulang. Semua anggota harus bisa mengukur kemampuannya sendiri. Tidak perlu terburu-buru melangkah ke tahap yang lebih susah, karena memang tidak ada paksaan dan yang terpenting adalah keamanan anggota.

“Memang ada trik-triknya, bagi pemula safety itu yang paling utama. Kami sering melakukan latihan rutin setiap Rabu dan Kamis di sekitar stadion Manahan,” ujarnya. (*/bun)  Editor : Damianus Bram
#parkour #olahraga ekstrem #parkour spartarun Solo #Spartarun Parkour