Ketiga klub ini baru dibentuk beberapa tahun terakhir. Untuk Merdeka, baru diresmikan pada Februari lalu.
"Menurut saya, potensi yang ada dalam diri anak Solo ini sangat banyak dan sangat bagus untuk diasah. Waktu trial di Februari peserta yang ikut 65 orang di minggu pertama. Kemudian 70 orang di minggu kedua," papar Ketua Merdeka Basketball Klub Dyah Puspitasari kepada Jawa Pos Radar Solo.
Setelah trial, sekira 52 anak memutuskan untuk mendaftar kelas reguler sejak Maret ini.
"Jadi sebenarnya potensi anak Solo banyak sekali. Sebagai pihak pengembangan basket, seharusnya menjadi wadah untuk mereka menggali potensi itu," tambahnya.
Dengan adanya akademi atau klub, bisa mendorong dan mengolah bakat anak. Tapi disamping itu harusnya Kota Solo melalui induk organisasinya harus mempunyai agenda pertandingan terstruktur untuk kembali mencetak generasi juara.
"Ini agar setiap klub atau akademi yang ada di solo memiliki arah dan tujuan yang satu. Visi misi untuk mengembangkan potensi basket di Solo. Salah satu yang harus diapresiasi adalah gelaran liga solo yang sudah mulai membuat event basket di Solo. Setahun terakhir ada jenjang SMA, veteran, dan Mei mendatang membuat gelaran basket untuk kelompok umur dan tingkat SMP," tambah mantan pemain Sritex Dragons di era WNBL tersebut.
Ke depan, dia berharap akan lebih banyak event dari mungkin Perbasi yang mendukung pengembangan potensi anak di Solo. (nis/nik) Editor : Damianus Bram