Slamet melihat anak-anak zaman sekarang sangat berbeda dengan masa kecilnya dulu. Berbagai permainan tradisional yang ada unsur olahraganya rutin dimainkan, seperti engklek, petak umpet, balap karung, betengan bahkan lompat tali.
"Nah, saya melihat itu jadi kangen. Saya jadi berpikir bagaimana bisa menciptakan permainan tradisional yang bisa dinikmati oleh semua kalangan, termasuk anak-anak yang bisa dimainkannya di era modern ini”, tutur Slamet.
Slamet mencoba melestarikan permainan tradisional berbasis hasil penelitian dengan melakukan sosialisasi dan pelatihan. Tercetuslah inovasi yang dinamakan goara-goara.
“Ini merupakan suatu model inovasi dari gabungan olahraga tradisional yang terdapat di Indonesia. Goara-goara didesain menjadi satu kesatuan, sehingga menjadi olahraga baru, dalam rangka upaya pelestarian permainan atau olahraga tradisional dengan tujuan meningkatkan daya tarik masyarakat agar mau memainkannya kembali," jelas Slamet.
Dalam festival ini, terdapat berbagai jenis permainan atau olahraga tradisional. Di antaranya, rangku alu, balap karung, lompat tali bertahap atau bertingkat, hingga suda manda atau engklek. Kemudian permainan lompat tali berputar, egrang bambu, boy-boyan, hingga panjat bambu. Semua dimainkan secara bertahap dan berkesinambungan dalam waktu yang secepat-cepatnya.
Menariknya lagi, Goara-Goara punya delapan pos yang harus dihadapi pemain. Pos pertama merupakan sebuah permainan yang mengombinasikan gerak, tari, dan lagu. Ini modifikasi dari permainan rangku alu.
Pos kedua adalah modifikasi permainan balap karung yang membutuhkan tenaga besar pada kaki dan daya tahan tahan tubuh.
"Pos ketiga yaitu modifikasi permainan lompat tali bertahap atau bertingkat. Pos keempat adalah modifikasi permainan suda manda atau engklek gunung dengan desain unik. Pos kelima modifikasi permainan lompat tali berputar yang dilakukan secara bertahap dan di setiap tahapan akan bertambah putarannya," jelasnya.
Sementara pos ke enam adalah permainan egrang yang membutuhkan skill tingkat tinggi seperti kekuatan, kelincahan, keseimbangan, daya tahan, kelentukan, kecepatan dan gerak koordinasi.
Lalu, Pos ketujuh adalah modifikasi boy-boyan yang dimainkan dengan cara melemparkan bola kearah sasaran.
"Pos kedelapan merupakan pos terakhir yaitu modifikasi panjat bambu," imbuhnya.
Goara-goara bisa dimainkan secara individual maupun beregu. Juni ini, Slamet dan tim menggelar Festival Goara-Goara edisi pertama kalinya yang diadakan di GOR UTP Surakarta, Plesungan, Karanganyar.
“Harapannya Festival Goara-Goara ini mampu menjadi salah satu motor penggerak kebangkitan permainan maupun olahraga tradisional, memupuk jiwa patriot, pelopor dan mandiri khususnya bagi para pemain serta membantu memajukan sektor pariwisata di Indonesia,” beber Slamet. (nis/nik/dam) Editor : Damianus Bram