RADARSOLO.COM - Alwi Farhan sukses mewujudkan mimpi Indonesia yang terpendam selama 31 tahun. Prosesnya menjadi pebulu tangkis nasional, ternyata cukup panjang. Ini kisahnya saat baru memulai karirnya di bulu tangkis.
Atlet bulu tangkis asal Kota Bengawan itu mewujudkan mimpi Indonesia yang terpendam selama 31 tahun. Dia sukses mencetak sejarah sebagai jawara men single BWF World Junior Championship di Amerika, Minggu (8/10) kemarin. Usai mengalahkan wakil Tiongkok Hu Zhe An lewat rubber game 21-19, 19-21, dan 21-14 di The Podium Arena, Spokane, Washington.
Sejak kecil bakat bulu tangkisnya sudah terlihat. Hal tersebut dibeberkan oleh pelatih masa kecilnya Slamet Widodo atau kerap dipanggil Pakdhe Dodo. Saat berumur 7 hingga 8 tahun, Alwi sempat berlatih di PB Obsesi Solo.
"Waktu itu di klub Obsesi sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu. Awal-awalnya dia suka latihan badminton. Sebenarnya yang difokuskan abahnya itu kakaknya. Kakaknya juga kebetulan pemain badminton. Terus dia lihat-lihat, ikut-ikut, akhirnya mau ikut latihan yang tenanan (serius)," kata Pakdhe Dodo kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (10/9).
Di masa-masa tersebut, Alwi sejatinya tak fokus pada badminton saja. Dia juga menggeluti dunia sepak bola. Jadi cukup maklum jika fisik dan mentalnya sudah mulai terbentuk saat itu.
"Dia memang ada dua cabor yang ditekuni. Bagus juga main sepak bolanya. Abahnya juga bingung, sampai kelas 6 masih ikut sepak bola. Fisik dan mental itu luar biasa," bebernya.
Bakat Alwi kian terasah dari waktu ke waktu. Anak ketiga dari Muhammad Anis itu bisa skipping double dengan baik di usianya yang masih cukup muda. Ini menandakan bahwa bakatnya terlihat sejak dini, dan dia rajin menempa diri.
“Semangat juangnya juga bagus dari kecil. Dulu saya sering ikutkan tarkam di usia bebas di Solo. Kebetulan dia ikut terus sama abahnya, yang nganter saya (ke lokasi). Jiwa mentalnya terbentuk dari situ," kata Pakdhe Dodo.
Alwi awalnya dikenal sebagai sosok pendiam. Tapi saat dia berlatih, motivasinya berapi-api. Dia seorang yang suka tantangan.
"Speed-nya luar biasa. Ketika di lapangan dia ngotot. Tidak mau kalah sama rekan-rekannya," tambah Pakdhe Dodo.
Saat di Obsesi, dulu latihannya tiga kali seminggu di GOR Joyotakan. Tapi setelah itu dia dipindahkan ke PB Saribumi untuk semakin mengasah kemampuannya. Di Saribumi, Alwi berlatih dari 2014-2017. Setelah itu ke PB Mansion Exist Jakarta hingga sekarang. Alwi juga bergabung di pemusatan latihan nasional (pelatnas) dari 2022.
Mengenai sejarah yang baru diciptakan Alwi, Slamet mengaku salut dan bangga. "Saya salut atas perjuangan dia waktu kecil sampai juara dunia. Setelah sekian kalinya Indonesia tak pernah juara, dia akhirnya bisa. Ini sebuah anugerah luar biasa dari atlet asal Solo, yang sukses mengharumkan nama Indonesia di kancah bulu tangkis dunia," tambahnya.
Pakdhe Dodo berpesan kepada Alwi, ini bukan akhir dari perjuangannya. "Semangat terus pokoknya. Tetap rendah hati. Jaga kesehatan, dan jaga salatnya," pesannya.
Pesan serupa disampaikan oleh ayahanda Alwi, yakni Muhammad Anis. Dia berharap buah harinya harus tetap membumi dan rendah hati.
"Ini baru proses langkah awal. Jadi baru di junior, sementara tujuannya tetap ke senior. Dia akan masuk masa peralihan dari junior ke senior. Mungkin dia harus mempersiapkan lagi, berintegrasi lagi untuk adaptasi terhadap lawan yang pasti lebih punya pengalaman, lebih siap secara fisik, teknik, harus secepatnya beradaptasi," ucap Anis. (nis/nik)
Editor : Damianus Bram