RADARSOLO.COM - Siapa yang tidak mengenal pencak silat. Bela diri asli Indonesia tersebut identik dengan gerakan yang gesit, luwes, serta memiliki keindahan dan nilai estetika.
Pencak silat telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, pada sidang ke-14 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage.
Sidang ini berlangsung di Bogota, Kolombia, 9-14 Desember 2019. Pada sidang tersebut, terdapat 42 nominasi untuk diinskripsi sebagai warisan budaya tak benda, termasuk pencak silat dari Indonesia.
Sebagai salah satu seni bela diri, pencak silat merupakan tradisi khas Indonesia yang telah ada dari generasi ke generasi.
Tradisi ini berawal dari Sumatera Barat dan Jawa Bara. Kemudian berkembang ke seluruh wilayah di Indonesia, dengan keunikan gerakan dan musik yang mengiringi.
Pencak silat juga memiliki seluruh elemen yang membentuk warisan budaya tak benda. Terdiri dari tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual dan festival, kerajinan tradisional, pengetahuan dan praktik sosial, serta kearifan lokal.
Warga pencak silat tingkat II KRAT Shinto Suroso Notonegoro menjelaskan beberapa hal terkait simbol, maupun makna pada setiap gerakannya. Di mana gerakan silat terinspirasi dari nilai-nilai alam dan ajaran budaya Jawa.
“Dapat dilihat dari perkembangan yang ada di seluruh penjuru dunia. Pencak silat sekarang ini memiliki ciri khas yang tidak banyak orang tahu. Merupakan pengendalian layaknya wirogo, wiromo, dan wiroso,” ujar pria yang akrab disapa Kanjeng Shinto tersebut kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (16/2/2024).
Menurut Kanjeng Shinto, wirogo adalah ajaran persaudaraan yang melambangkan fisik. Seperti berlatih setiap malam untuk mempelajari teknik-teknik yang akan dikuasai.
Lalu pengembangan persiapan untuk menghindar dari serangan lawan dengan jurus tertentu.
Ajaran leluhur pada wirogo ini juga terkait dengan manusia yang berbudi luhur. Telah diterapkan pada gerak-gerak latihan yang disiplin dan rutin.
“Banyak siswa kami yang masih pelajar dan mahasiswa. Kami bina untuk mempersiapkan diri pada pembinaan fisik, supaya sehat jasmani dan rohani. Sekaligus menuju pendewasaan, menguatkan silahturahmi, serta penguatan spiritual,” imbuhnya.
Selanjutnya wiromo, di mana seseorang mampu mengendalikan diri dari suatu kebutuhan. Ambil contoh silat sebagai atraksi dalam pementasan.
Gendhing yang dipilih seperti ladrang, srepeg, dan sebagainya. Sehingga lebih terlihat bermakna. Serta penghayatan pada gerakan yang menyesuaikan gendhing.
“Sama halnya ketika saya bergerak diiringi karawitan. Saya merasa angles. Karena pencak silat memiliki sudut pandang berbeda, terutama di bidang seni. Kebetulan saya sering diberi amanah sebagai pamong budaya pencak silat,” beber pria yang juga pengurus Dewan Pertimbangan Cabang Khusus Karaton Kasunanan Surakarta tersebut.
Terakhir adalah wiroso. Merupakan ajaran yang mendalam dan sering dilakukan. Seperti menguatkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Serta menjaga nilai spiritual sesuai ajaran perguruan dan budaya Jawa.
Perkembangan pencak silat selain sebagai tradisi atau budaya, juga mengarah pada prestasi dan seni. Pengembangan ini menurut Kanjeng Shinto sah-sah saja.
Asalkan tetap berpegang teguh pada pakem. Ambi contoh saat gerakan bukaan, tetap harus menyesuaikan gerakan bukaan pada umumnya.
“Anak perempuan saya pernah membuat karya tari bedhaya terate emas. Semoga keindahan pencak silat yang memiliki nilai estetika tinggi ini, dapat berkembang dan dinikmati generasi penerus,” bebernya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram