Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

PON I 1948 di Solo Menginspirasi Lahirnya Haornas: 9 Cabor, Stadion Sriwedari, R Maladi, dan Kejayaan Surakarta

Niko auglandy • Senin, 15 September 2025 | 17:05 WIB
Presiden Sukarno, Muhammad Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX turun hadir menyaksikan upacara PON 1 di Stadion Sriwedari, 9 September 1948. (DOK. ANRI-IPPHOS)
Presiden Sukarno, Muhammad Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX turun hadir menyaksikan upacara PON 1 di Stadion Sriwedari, 9 September 1948. (DOK. ANRI-IPPHOS)

RADARSOLO.COM - Hari Olahraga Nasional digelar setaip 9 September Tangal tersebut ternyata untuk mengenang multievent Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama yang digelar di Solo, 1948 silam.

Tak lama setelah Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) berdiri tahun 1946, sejarah besar olahraga Indonesia tercipta. Solo dipilih sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama yang digelar pada 9-12 September 1948.

Ajang ini lahir dari kekecewaan. Indonesia yang baru merdeka sebenarnya ingin ikut Olimpiade Musim Panas XIV di London tahun 1948.

Namun, pendaftaran PORI ditolak oleh International Olympic Committee (IOC) karena Indonesia belum diakui sebagai anggota resmi. Sebagai gantinya, muncullah gagasan menggelar PON sebagai ajang kebanggaan nasional.

“Kejuaraan PON pertama bisa dibilang digelar dengan sangat dadakan sekali. Saya pun awalnya hanya mendapat ajakan untuk ikut serta tanpa tahu detailnya. Situasinya saat itu memang belum aman, walaupun Indonesia baru saja merdeka,” ungkap Titi Syarif Sudibyo, atlet PON I 1948, dalam wawancara Jawa Pos Radar Solo, 2014 silam.

Pemilihan Solo bukan tanpa alasan. Selain memiliki fasilitas olahraga memadai, kota ini juga punya catatan sejarah lewat ajang POR ISI (Pekan Olahraga Ikatan Sport Indonesia) tahun 1938 yang dikenal sebagai “Sportweek Surakarta”.

Kala itu, 11 cabang olahraga dipertandingkan, mulai tenis, atletik, bulu tangkis, hingga sepak bola. Kesuksesan POR ISI menjadi inspirasi lahirnya PON.

Pada PON I 1948, terdapat sembilan cabang olahraga yang dipertandingkan, termasuk sepak bola yang menjadi magnet utama.

Peserta datang bukan berdasarkan provinsi seperti sekarang, melainkan karesidenan atau kota, seperti Surakarta, Jogja, Semarang, Surabaya, Bandung, hingga Jakarta.

Ada enam tim sepak bola yang ikut serta, dibagi dalam dua grup. Tim Surakarta diperkuat bintang lokal Persis seperti Subagio, Sumadi, Mustangin, Siswandito, Daliman, dan Kiong Hoo.

Dari Jogja hadir pemain hebat seperti Suyoto, Nurcahman Bronto, Gilig, hingga Djawad, salah satu punggawa Timnas PSSI pertama 1937.

Bahkan, bintang nasional Maulwi Saelan memperkuat tim Jakarta bersama Roeslan, Murad, Subandi, hingga Isaak Pattiwael.

Di babak final di Stadion Sriwedari, Surakarta tampil garang dan membungkam Jogja dengan skor telak 5-0.

Kemenangan itu menjadi pelipur lara bagi publik Solo sekaligus balas dendam atas kekalahan PSIM Jogja pada laga final beberapa tahun sebelumnya.

Kesuksesan penyelenggaraan sepak bola di PON I juga mengangkat nama R. Maladi, yang kala itu menjadi ketua panitia cabang sepak bola. Dua tahun kemudian, Maladi dipercaya sebagai Ketua Umum PSSI (1950—1959).

Selain kejayaan Surakarta di sepak bola, tuan rumah juga keluar sebagai juara umum PON I dengan torehan 16 emas, 10 perak, dan 10 perunggu. Jogja berada di posisi kedua dengan 11 emas, 9 perak, dan 3 perunggu.

PON pertama ini akhirnya menjadi tonggak sejarah olahraga Indonesia sekaligus bukti bahwa bangsa yang baru merdeka bisa menggelar multievent olahraga dengan penuh semangat persatuan. (nik)

Editor : Niko auglandy
#solo #1948 #PON