Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pertarungan Para Fencing dari Berbagai Negara Dimulai di Solo

Mannisa Elfira • Senin, 15 September 2025 | 22:18 WIB
FOKUS: Hari pertama pelaksanaan Para Fencing World Cup 2025 di GOR Indoor Manahan, Senin (15/9).
FOKUS: Hari pertama pelaksanaan Para Fencing World Cup 2025 di GOR Indoor Manahan, Senin (15/9).

RADARSOLO.COM - Dentingan pedang dan teriakan semangat terdengar di GOR Indoor Manahan, Senin (15/9/2025). Menandakan dimulainya pertarungan fencer dari 17 negara dalam ajang prestisius, Para Fencing World Cup 2025.

Salah satunya datang dari Tanah Air. Fencer asal Kebumen, Aditya Hidayat mencicipi kerasnya persaingan kelas dunia di nomor men’s foil A. Sayang, Aditya harus terhenti di babak penyisihan 16 besar usai dikalahkan oleh wakil Jepang, Shintaro Kano.

"Saya tadi babak 16 besar melawan Jepang. Saya kalah di reflek tadi. Kecepatan tangannya sudah berbeda," ucap Aditya usai pertandingan.

Meski kalah, Aditya tak menyesal. Menurutnya, tampil di ajang internasional adalah pengalaman langka, lantaran dia lebih sering turun di level nasional. Persiapannya pun tak panjang, hanya pelatnas dua pekan serta sentralisasi empat bulan di Solo.

"Ternyata cara main mereka smooth," sebut Aditya.

Wasekjen NPC Indonesia Rima Ferdianto menuturkan, pelaksanaan hari pertama Para Fencing World Cup 2025 berjalan lancar. Atmosfer di arena dinilai terasa hangat dengan dukungan penonton dari FKOR yang memberi semangat kepada para fencer di lapangan.

"Mereka merasa nyaman, apalagi mereka sempat ada penonton dari FKOR. Mereka merasa seperti di-uwongke. Suhunya sekarang juga lebih dingin dari kemarin, peralatannya lengkap. Jadi kami dapat banyak apresiasi," ucap Rima.

Disisi lain, beberapa atlet Indonesia berhasil meraih kemenangan meski harus saling mengalahkan rekan senegara. Hasil itu dianggap wajar oleh Rima, mengingat tujuan mereka untuk mengantongi pengalaman sebanyak-banyaknya.

"Tujuan di kejuaraan ini menimba pengalaman sebanyak-banyaknya terutama dari yang rank tertinggi dan juara Paralimpiade," sambungnya.

Rima menegaskan, NPC Indonesia tidak membidik target medali. Mereka masih fokus mengembangkan cabang olahraga (cabor) para fencing. Meski jarak pembinaan dengan negara-negara lainnya masih cukup lebar, langkah ini diyakini sebagai fondasi.

"Harapannya, generasi muda ini kelak bisa jadi andalan Indonesia di ajang Asia Tenggara atau Asia. Target kami murni bukan medali, hanya menambah jam terbang saja," tegas Rima.

Pertarungan ini memang melibatkan banyak atlet dengan jam terbang tinggi. Total ada 66 atlet yang bertarung di 15 nomor pertandingan. Mereka berasal dari Australia, Perancis, Georgia, Jerman, Amerika Serikat, Korea Selatan, Polandia, Hong Kong, Britania Raya, Spanyol, India, Irak, Jepang, Argentina, Latvia, Thailand, dan tuan rumah Indonesia. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#paralimpiade #NPC Indonesia #anggar #Fencing #kota solo