RADARSOLO.COM – Harapan SMAN 4 Surakarta untuk melangkah lebih jauh di ajang Honda Developmental Basketball League (DBL) with Kopi Good Day 2025 Central Java Series–South harus kandas lebih cepat.
Arga Bima dan kolega harus legawa setelah kalah tipis 21-28 dari SMA Islam Diponegoro dalam game kedua babak penyisihan, Minggu (21/9).
Kekalahan itu memastikan tiket playoffs jatuh ke tangan SMA Islam Diponegoro. Padahal, duel berlangsung sengit sejak awal. Kedua tim sama-sama tampil ngotot, tak mau saling mengalah. Sayang, eksekusi akhir membuat SMAN 4 gagal mencuri kemenangan.
“Gamenya cukup ketat. Anak-anak juga sama-sama berusaha menang. Play-by-play berjalan bagus, tapi mungkin belum kesempatan bagi SMAN 4 untuk meraih kemenangan lagi,” ungkap pelatih kepala SMAN 4 Surakarta, Marseno, usai pertandingan.
Baca Juga: Brastajaya vs Icebrig, Perang Kreo Panaskan Honda DBL Solo di Sritex Arena
Sebelumnya, SMAN 4 Surakarta tampil meyakinkan di laga perdana melawan SMA Al-Islam 1 Surakarta, 17 September lalu.
Mereka menang telak 55-10. Sayang, performa impresif itu tak berlanjut di game kedua.
Meski demikian, Marseno tetap mengapresiasi perjuangan anak asuhnya.
“Anak-anak tampil cukup bagus, meski kalah. Lawan juga tidak mau kalah. Semua berjuang. Jadi apapun hasilnya kita syukuri,” lanjutnya.
Baca Juga: Tak Terbendung! IC Sukoharjo Gasak Dua Lawan, Tiket Playoff honda DBL Solo 2025 dalam Genggaman
Ini menjadi tahun kedua keikutsertaan SMAN 4 Surakarta setelah sempat absen cukup lama. Dengan tambahan 4–5 pemain kelas X, tim terlihat lebih segar dan solid dibanding musim sebelumnya.
“Kalau tahun kemarin SDM-nya kurang, pemainnya terbatas. Sekarang lumayan terbantu dengan adanya anak kelas 1,” jelasnya.
Baca Juga: Infinite Dance Crew Regpac Usung Kisah Freddie Mercury di Azarine DBL Dance Competition
Namun, masih ada pekerjaan rumah yang perlu dibenahi sebelum musim depan. Target mereka jelas: lolos playoffs dan tembus Fantastic Four.
“Evaluasi terbesar ada di komunikasi. Beberapa kali miss, saat ada teman kosong tidak diberi bola. Ego anak-anak masih tinggi,” pungkas Marseno. (nis/nik)