RADARSOLO.COM – Pebulu tangkis kategori men single SL3, Muhammad Al Imran berhasil catatkan revans atas perwakilan India, Pramod Bhagat. Imran berhasil membekuk Pramod dua gim langsung (21-17, 21-14) dalam Polytron Indonesia Para Badminton International (PIPBI) 2025 di GOR Indoor Manahan, Kamis (30/10).
Kemenangan ini terasa spesial. Lantaran, bulan lalu Imran harus mengakui keunggulan Bhagat di partai pamungkas China Para Badminton International 2025 dengan skor tipis 1-2 (15-21, 21-19, 16-21).
Kini, di hadapan publik sendiri, atlet asal Bogor itu berhasil membalas kekalahan tersebut.
"Dia (Bhagat) peraih medali Paralimpiade di Jepang. Alhamdulillah sangat bersyukur bisa mengalahkan dia. Dulu pernah ketemu di final China Open, lalu kalah di final. Tapi alhamdulillah bisa membalas di Indonesia," ucap Imran kepada awak media usai pertandingan.
Menurutnya, kunci kemenangan ada pada disiplin latihan dan perubahan tempo permainan. Konsistensi di arena mampu membawanya pada kemenangan atas Bhagat.
"Ada perubahan gaya main pastinya. Mungkin agak dicepetin. Dia pula mainnya awet ya. Jadi kadang kita awet-awetan sih. Terus tiva-tiba ada uang kecolongan. Jadi mencari celahnya," lanjut Imran.
Menariknya, ini merupakan turnamen level 1 pertama kali yang diikuti oleh Imran.
Berada di level tertinggi, Imran ingin allout. Pebulutangkis asal Bogor tersebut membidik medali emas untuk mengharumkan nama Indonesia.
"Yang pastinya kita pribadi pengennya yang terbaik buat bangsa Indonesia. Semoga saja ke depannya bisa lebih meningkat lagi, lebih berkembang lagi, dan lebih belajar lagi," kata Imran.
"Dua hari ini alhamdulillah, menurut saya sangat seru. Ditambah berbagai antusias dark para pemain dan semangatnya. Juga para suporternya," sebutnya.
Meruntut ke belakang, Imran merupakan atlet binaan dari NPCI Kabupaten Bogor. Dari Peparda Jawa Barat ke Peparnas, Imran berhasil menunjukkan kelasnya dengan mempersembahkan tiga medali emas. Yaitu single nasional, single elite, dan beregu.
"Alhamdulillah habis Peparnas bisa langsung dipanggil ke Pelatnas. Selama pelatnas, pembedanya lebih ke sparing-nya. Di Pelatnas sparing-sparing-nya sudah senior-senior semua. Jam terbangnya sudah tinggi. Jadi lebih pede kalau sparingannya lebih kuat. Kami terbawa sama jam terbangnya," bebernya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy