RADARSOLO.COM - Setelah menempuh perjalanan lintas benua selama 30 jam dari tanah kelahirannya, Gervane Kastaneer akhirnya mendarat di Kota Bengawan. Ia memboyong sesuatu yang jauh lebih berat dan berharga ketimbang koper bagasi. Ialah energi positif dari sebuah sejarah: lolosnya negara kecil Curacao ke panggung sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia 2026.
Penyerang berusia 29 tahun itu, jebolan akademi SC Feyenoord, kini mengemban misi ganda. Menjaga semangat internasionalnya tetap menyala, sekaligus mengeluarkannya untuk mengangkat tim yang ia bela, Persis Solo.
Ketika ditanya siapa pemain Piala Dunia yang paling ingin ia hadapi, jawaban Kastaneer jauh melampaui sekadar nama. Ia sudah pernah berdiri di sana, mengukur diri melawan para bintang elite.
"Saya sudah bermain melawan banyak pemain bagus. Saya bermain bersama Frenkie de Jong, Steven Bergwijn dari tim Belanda," sebut Kastaneer. "Bagi saya, berada di panggung itu, membandingkan diri dengan pemain besar, itu hal terbaik yang bisa dilakukan."
Menurut Kastaneer, esensi terjun di panggung terbesar bukan terletak pada siapa lawannya, melainkan kesempatan untuk mengukur sejauh mana level permainannya di lapangan hijau.
"Saat Anda menghadapi pemain-pemain hebat, di situlah terlihat sejauh mana level Anda jika dibandingkan dengan mereka. Dan di atas semuanya, berdiri di sana bersama negara Anda adalah hal yang paling penting," tegasnya, memancarkan patriotisme yang kuat.
Di bawah racikan pelatih legendaris Dick Advocaat, Kastaneer tampil sepanjang enam pertandingan kualifikasi dan menyumbangkan lima gol. Puncaknya terjadi kala melawan Saint Lucia Juni lalu, di mana ia mencetak hattrick—dua gol lewat tendangan keras, satu gol dengan tandukan mematikan—dalam kemenangan 4-0.
Bagi Kastaneer, lolosnya Curacao ke Piala Dunia adalah puncak karier yang melampaui segalanya, sebuah "gong" yang menegaskan bahwa kerja keras dan mimpi panjang mampu berakhir di panggung yang pantas.
"Kami telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Saya pikir sebagai negara kecil seperti Curaçao, tidak ada yang percaya pada kami. Tapi kami melakukannya, dan ini luar biasa bagi negara kami," ucap Kastaneer, matanya berbinar bangga.
Meskipun kontribusinya besar, ia merendah, menyebut pencapaian itu sebagai kerja kolektif. "Ini adalah mimpi. Kami memiliki mimpi sebagai sebuah negara. Kami percaya pada diri sendiri. Tidak ada yang percaya pada kami. Semua orang bertanya, bagaimana bisa? Kami adalah negara kecil dengan hati yang besar. Tuhan selalu di tempat pertama. Kami berjalan bersama Tuhan dan kami berhasil."
Energi positif, keyakinan, dan mentalitas dream power inilah yang kini coba diboyong Kastaneer ke lapangan Sambernyawa. Sejak didatangkan awal musim ini, kontribusinya bersama Persis Solo belum optimal, dengan baru menyumbangkan satu gol dan satu assist.
Situasi timnya tengah sulit. Paceklik kemenangan yang tak kunjung usai membuat Persis Solo terjerembab sebagai penghuni dasar klasemen dengan koleksi tujuh poin.
"Kami telah meraih dua hasil bagus, 0-0 (kontra Bali United) dan 2-2 (lawan PSIM Jogjakarta). Kami perlu terus bekerja keras," tegasnya.
Keyakinan Kastaneer kembali ia ulangi dengan nada mantap, menunjukkan mental juara. Ia yakin Laskar Sambernyawa bakal segera keluar dari situasi panas ini.
"Saya yakin tim ini memiliki kualitas cukup untuk keluar dari situasi ini. Saya tidak khawatir. Saya percaya pada tim saya dan kita akan keluar dari situasi ini. Memang butuh kesabaran, tapi itu akan terjadi," lanjut Kastaneer, berjanji akan menyuntikkan mentalitas kemenangan Piala Dunia ke rekan-rekannya. (nis/bun)
Editor : Kabun Triyatno