RADARSOLO — Upaya banding yang diajukan Persis Solo atas sanksi federasi berujung paradoks. Hukuman memang dipangkas, namun beban finansial justru melonjak tajam.
Dalam putusan awal Komite Disiplin PSSI Nomor 200/L1/SK/KD-PSSI/III/2026, Persis dijatuhi sanksi berat berupa lima laga kandang tanpa penonton serta denda Rp50 juta. Sanksi itu merupakan buntut insiden saat laga tandang di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara.
Manajemen tak tinggal diam dan mengajukan banding. Hasilnya, Komite Banding memangkas hukuman menjadi dua laga kandang tanpa penonton. Namun, keringanan tersebut datang dengan “harga” yang jauh lebih mahal.
Baca Juga: Delapan Klub Kena Denda Puluhan Juta, Persis Solo dan PSIM Jogja Disanksi Karena Ulah Suporter
Dua laga kandang berikutnya tetap boleh dihadiri penonton, tetapi dengan pembatasan ketat: Tribun Utara dan Selatan Stadion Manahan wajib ditutup, sementara penonton di tribun lain dilarang mengenakan atribut Persis.
Yang mengejutkan, denda administratif justru melonjak tiga kali lipat menjadi Rp150 juta. Tak hanya itu, uang jaminan banding sebesar Rp50 juta dinyatakan hangus.
Direktur Persis, Ginda Ferachtriawan, mengaku kecewa dengan putusan tersebut. Ia menilai terdapat kejanggalan mendasar dalam penerapan sanksi.
“Pelanggaran terjadi saat laga tandang, tapi yang disanksi justru laga kandang. Ini yang menurut kami kurang tepat,” ujarnya.
Menurutnya, sebagai tim tamu, Persis telah menjalankan prosedur sesuai regulasi, termasuk mengimbau suporter untuk tidak hadir di stadion. Namun di lapangan, situasi berbeda terjadi.
Ginda menyoroti panitia pelaksana tuan rumah yang dinilai tetap membuka celah dengan menjual tiket kepada suporter Persis.
“Kami sudah mengimbau agar suporter tidak datang. Tapi panpel tuan rumah tetap menjual tiket. Ini seharusnya juga jadi evaluasi,” tegasnya.
Ia menyebut, kasus ini menjadi pengalaman pertama bagi Persis, di mana insiden laga tandang berdampak langsung pada hukuman laga kandang.
“Biasanya kalau pelanggaran terjadi saat away, konsekuensinya juga di situ. Ini justru berdampak ke home,” imbuhnya.
Meski kecewa, manajemen memastikan tetap menghormati putusan federasi. Evaluasi internal pun akan dilakukan, termasuk memperkuat komunikasi dengan kelompok suporter.
Ginda menegaskan, sanksi tanpa penonton membawa dampak signifikan, baik secara finansial maupun performa tim.
“Atmosfer pertandingan jelas berbeda tanpa penonton. Dari sisi pemasukan juga pasti berkurang,” jelasnya.
Di sisa musim ini, Persis masih memiliki empat laga kandang di Stadion Manahan, yakni melawan Semen Padang (12 April), Bhayangkara FC (22 April), Persebaya (5 Mei), dan Dewa United (16 Mei). Situasi ini membuat manajemen harus memutar strategi agar kerugian tidak semakin melebar.
“Kami berharap ini jadi pembelajaran bersama. Manajemen dan suporter harus punya visi yang sama agar tim tidak terus dirugikan,” tandasnya. (atn)
Editor : Kabun Triyatno