RADARSOLO.COM – Pro Futsal League (PFL) 2 tak lagi dipandang sekadar kompetisi kasta kedua futsal nasional. Di balik persaingan memperebutkan tiket promosi, Federasi Futsal Indonesia (FFI) menyiapkan ajang tersebut sebagai jalur pembinaan pemain muda menuju level profesional hingga menjadi tulang punggung Timnas Indonesia pada masa depan.
Hal itu ditegaskan Ketua Umum Federasi Futsal Indonesia (FFI) Michael Sianipar saat menghadiri partai final PFL 2 musim 2025/2026 di GOR Bung Karno Sukoharjo, Minggu (28/6/2026) malam.
Menurut Michael, PFL 2 sejak awal memang didesain sebagai ruang kompetisi bagi pemain-pemain muda agar memperoleh jam terbang yang memadai. Kesempatan tampil secara reguler dinilai menjadi modal penting dalam proses pembentukan kualitas pemain sebelum menembus level tertinggi.
"PFL 2 memang kita desain untuk memberikan ruang lebih kepada pemain-pemain muda, baik itu U-23 bahkan U-20," ujarnya.
Baca Juga: Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026: Jadwal Pertandingan Lengkap, Big Match Sudah Terjadi Sejak Awal
Dia menilai menit bermain di kompetisi jauh lebih efektif untuk mengembangkan kemampuan pemain dibanding hanya mengandalkan program pemusatan latihan. Karena itu, FFI terus memperkuat rantai pembinaan dari kelompok usia hingga level profesional.
Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah mengirim Timnas Futsal Indonesia U-17 menjalani rangkaian uji coba di Spanyol. Program tersebut menjadi bagian dari strategi federasi untuk meningkatkan kualitas pemain sejak usia dini.
"Kemarin kita juga baru mengirim dari federasi Timnas Futsal Indonesia U-17 ke Spanyol. Ke depan kita mau perbanyak, baik itu U-17, U-18, U-19, jadi banyak kompetisi," lanjutnya.
Baca Juga: Dari Lereng Lawu Karanganyar, Merti Gunung Serukan Harmoni Manusia dengan Alam
Michael optimistis semakin banyak kompetisi yang tersedia, semakin besar pula peluang menemukan talenta-talenta terbaik dari berbagai daerah. Menurutnya, potensi futsal Indonesia tersebar di seluruh penjuru Tanah Air dan tidak hanya berada di kota-kota besar.
Karena itu, pemerataan kompetisi menjadi salah satu fokus utama FFI agar setiap daerah memiliki kesempatan yang sama melahirkan pemain berkualitas.
"Harapannya tentunya futsal Indonesia terus berkembang. Kita punya optimisme bahwa futsal punya potensi yang luar biasa. Dan ini bukan hanya bicara satu kota, dua kota, satu daerah, tapi seluruh Indonesia," katanya.
Dia berharap penguatan kompetisi dari level usia dini hingga profesional mampu menciptakan regenerasi pemain secara berkesinambungan sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di panggung internasional.
"Dengan semakin banyaknya kompetisi, termasuk kelompok usia, akan semakin bermunculan pemain-pemain yang akan membawa nama bangsa ke depan supaya semakin harum lagi," tegasnya.
Baca Juga: Raih Podium Perdana, Valrossi Tampil Impresif Bersama CRF250R di Kejurnas Motocross 2026 Bekasi
Michael menambahkan, keberhasilan pembinaan futsal nasional tidak hanya menjadi tanggung jawab federasi. Klub, akademi, pelatih, hingga pemerintah daerah juga harus bersinergi membangun ekosistem pembinaan yang sehat sehingga regenerasi pemain terus berjalan.
Sementara itu, PFL 2 musim 2025/2026 resmi ditutup dengan partai final yang berlangsung sengit. Proton FC keluar sebagai juara setelah mengalahkan Hampton FC Surabaya melalui drama adu penalti 4-3 usai bermain imbang pada waktu normal.
Selain mengangkat trofi juara, Proton FC juga mendominasi penghargaan individu. Muhamad Aldi Ramadhan dinobatkan sebagai Man of the Match berkat dua golnya di partai final. Sementara Muhamad Daffa Erlangga menyabet gelar Best Player sekaligus Top Scorer PFL 2 musim 2025/2026.
Musim ini, Kota Bengawan sejatinya punya wakil, yakni Maestro Solo. Sayang tim ini gagal di final four dan tak bisa jauh melaju hingga ke partai final. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy