RADARSOLO.COM – Federasi Gymnastics Indonesia (FGI) Kota Solo masih menghadapi sejumlah tantangan dalam membina atlet senam ritmik berprestasi. Di tengah meningkatnya prestasi atlet di level nasional, keterbatasan anggaran dan minimnya dukungan fasilitas masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar pembinaan dapat berjalan lebih maksimal.
Humas FGI Kota Solo Ana Herlina mengatakan bantuan dari pemerintah melalui KONI Kota Surakarta maupun Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) selama ini cukup membantu keberlangsungan pembinaan. Namun, bantuan tersebut belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan atlet, terutama untuk pengembangan menuju level internasional.
Menurut Ana, KONI secara rutin menyalurkan uang pembinaan sebanyak tiga termin setiap tahun. Dana tersebut menjadi salah satu sumber utama operasional klub dalam menjalankan program latihan.
"Kalau dari KONI memang ada uang pembinaan tiga termin dalam setahun. Tetapi jumlahnya tidak banyak sehingga kami gunakan untuk membeli alat-alat latihan dan matras yang dibutuhkan atlet," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (22/7/2026).
Selain bantuan dana pembinaan, Dispora Kota Surakarta juga pernah memberikan bantuan berupa matras latihan. Bantuan tersebut dinilai penting mengingat perlengkapan senam ritmik membutuhkan biaya yang relatif tinggi dan harus terus dilengkapi sesuai kebutuhan latihan.
Ana menjelaskan kebutuhan matras terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas pembinaan. Federasi bahkan harus memperluas area matras agar sesuai dengan standar latihan maupun pertandingan.
Meski demikian, seluruh bantuan tersebut lebih banyak terserap untuk memenuhi kebutuhan operasional pembinaan. Hingga kini belum ada alokasi anggaran khusus yang dapat digunakan untuk membiayai atlet mengikuti kejuaraan internasional.
"Kalau untuk biaya pertandingan internasional memang belum ada. Dana pembinaan yang kami terima habis untuk kebutuhan bersama di klub, seperti membeli alat dan matras," katanya.
Selain persoalan anggaran, FGI Kota Solo juga harus berjuang menyediakan fasilitas latihan yang memadai. Selama bertahun-tahun para atlet berlatih di Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Manahan tanpa dipungut biaya.
Namun, penggunaan fasilitas tersebut harus menyesuaikan jadwal perkuliahan sehingga atlet kerap berpindah tempat latihan ketika ruang digunakan untuk kegiatan akademik.
"Dulu ritmik latihan di FKOR UNS Manahan. Kami memang tidak membayar, tetapi karena tempat itu juga dipakai untuk perkuliahan, kalau ada kuliah anak-anak harus mengalah dan latihan di luar," jelas Ana.
Kondisi tersebut dinilai kurang ideal, terutama ketika atlet menjalani persiapan menuju Kejuaraan Nasional, Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas), maupun Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Untuk mengatasi persoalan itu, federasi akhirnya memutuskan menyewa GOR Tirtomoyo agar atlet memiliki waktu latihan yang lebih fleksibel.
Keputusan tersebut memang menambah beban operasional klub karena biaya sewa gedung masih ditanggung secara mandiri melalui iuran para atlet. Namun, menurut Ana, langkah tersebut menjadi pilihan terbaik agar program latihan dapat berjalan lebih optimal.
"Dengan tempat sendiri kami bisa latihan pagi, siang sampai malam. Kalau ada atlet yang sedang persiapan Kejurnas atau Popnas, jam latihannya bisa ditambah tanpa harus terganggu jadwal penggunaan gedung," katanya.
Ana mengakui hingga kini belum ada bantuan khusus untuk biaya penyewaan tempat latihan. Padahal, keberadaan fasilitas yang representatif menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan prestasi atlet.
Karena itu, FGI Kota Solo berharap ke depan pemerintah dapat menghadirkan skema dukungan yang lebih komprehensif, tidak hanya untuk pembinaan dan pengadaan peralatan, tetapi juga penyediaan fasilitas latihan serta pendanaan bagi atlet yang berpeluang tampil di ajang internasasional.
"Harapannya tentu ada perhatian lebih kepada atlet-atlet yang sudah berprestasi supaya mereka bisa mengikuti kejuaraan internasional tanpa terkendala biaya," pungkas Ana. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy