Gagal Berangkat Kejuaraan Dunia Atletik U-20, Sprinter asal Solo Shava Waranggani Ungkap Kronologi di Balik Pupusnya Mimpi ke Oregon

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:55 WIB
Shava Waranggani (tengah) saat mengikuti kejurnas. (Istimewa)
Shava Waranggani (tengah) saat mengikuti kejurnas. (Istimewa)

RADARSOLO.COM – Mimpi sprinter muda asal Solo, Shava Salvia Waranggani, tampil di World Athletics U-20 Championships 2026 di Eugene, Oregon, Amerika Serikat, pupus hanya sepekan sebelum keberangkatan. Padahal, seluruh persiapan mulai dari pengurusan visa hingga program latihan telah rampung. Namun, sebuah kendala teknis membuat catatan waktunya tidak diakui sebagai syarat lolos ke kejuaraan dunia.

Shava mengaku sempat yakin akan menjadi bagian dari kontingen Indonesia. Semua dokumen keberangkatan telah disiapkan dan ia hanya tinggal menunggu jadwal terbang menuju Amerika Serikat.

"Awalnya saya sudah menyiapkan semuanya, mulai dari visa, berbagai persyaratan keberangkatan, hingga program latihan. H-7 sebelum berangkat semua persiapan sudah selesai, tinggal menunggu keberangkatan saja," ujar Shava kepada Radar Solo, Rabu (5/8/2026).

Namun, di tengah persiapan tersebut, ia menerima kabar dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) bahwa catatan waktunya pada Kejuaraan Nasional Atletik dan Indonesia U-18 Open Championships 2026 tidak diterima oleh World Athletics sebagai syarat kualifikasi.

Menurut Shava, penyebabnya bukan karena catatan waktunya tidak memenuhi standar, melainkan faktor kecepatan angin saat perlombaan berlangsung.

"Tiba-tiba saya mendapat kabar dari PB PASI bahwa catatan waktu saya di Kejurnas yang sebelumnya dinyatakan memenuhi limit Kejuaraan Dunia tidak diterima oleh World Athletics. Sebab, dalam perlombaan itu tidak hanya waktu yang dihitung, tetapi juga kecepatan angin. Saat itu kecepatan anginnya mencapai +2,3 meter per detik," jelasnya.

Baca Juga: PPG FKIP UTP Surakarta Sukses Selenggarakan Kejuaraan Internasional GOARA² 2026: Mengangkat Permainan Olahraga Tradisional Indonesia ke Kancah Dunia

Sesuai regulasi World Athletics, catatan waktu hanya dapat disahkan apabila kecepatan angin tidak melebihi +2,0 meter per detik. Karena angin saat perlombaan mencapai +2,3 meter per detik, hasil yang dicatat Shava akhirnya tidak dapat diakui sebagai limit resmi.

"Selisihnya memang sangat tipis. Padahal, sesuai ketentuan World Athletics, kecepatan angin yang masih diperbolehkan maksimal +2,0 meter per detik," imbuh atlet Jawa Tengah tersebut.

Shava mengaku sempat mempertanyakan alasan dirinya diminta mengurus visa dan berbagai dokumen keberangkatan apabila pada akhirnya tidak masuk daftar atlet yang diberangkatkan ke Oregon.

Ia menjelaskan, PB PASI sebelumnya telah mengajukan catatan waktunya bersama dua atlet Indonesia lainnya kepada World Athletics. Saat itu, federasi nasional optimistis seluruh persyaratan akan diterima sehingga proses administrasi keberangkatan tetap berjalan.

"Saya sempat bertanya kepada pengurus PB PASI mengapa saya diminta mengurus visa dan berbagai persyaratan keberangkatan jika akhirnya tidak berangkat. Saat itu limit waktu saya bersama dua atlet lainnya sudah diajukan ke World Athletics dan mereka memperkirakan saya akan berangkat karena tidak ada kendala," ungkapnya.

Menurut Shava, balasan dari World Athletics baru diterima ketika waktu keberangkatan sudah sangat dekat. Dari hasil verifikasi tersebut, hanya catatan waktunya yang dinyatakan tidak memenuhi ketentuan teknis.

"Balasan dari World Athletics tidak langsung kami terima, tetapi harus menunggu beberapa waktu. Ketika jawabannya datang, waktunya sudah sangat dekat dengan keberangkatan. Akhirnya saya mendapat kabar bahwa hanya catatan waktu saya yang tidak diterima oleh World Athletics," katanya.

Baca Juga: Mahasiswa UMS Gondol Emas Kejuaraan Pencak Silat Asia 2026 Di Vietnam

PB PASI pun sempat mengajukan banding atas keputusan tersebut. Namun, upaya itu tidak mengubah hasil karena regulasi World Athletics mengenai batas kecepatan angin bersifat mutlak.

"PB PASI sudah mengajukan banding, tetapi aturan tetaplah aturan sehingga keputusan itu tidak berubah," tegasnya.

Akibat keputusan tersebut, Shava harus mengubur impiannya tampil di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 2026. Sementara itu, Indonesia hanya mengirimkan dua wakil ke Eugene, yakni Hoshi Fatihah Azharah di nomor 200 meter putri dan Anugrah Styawan Santoso pada nomor 110 meter gawang putra. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
Shava Waranggani atletik lari