RADARSOLO.COM – Ultimate Fighting Championship (UFC) menjadi panggung impian bagi banyak petarung mixed martial arts (MMA), tak terkecuali Gibran A. Darrow. Namun, atlet asal Jawa Tengah itu memilih tidak terburu-buru mengejar level profesional. Baginya, pengalaman bertanding jauh lebih berharga sebagai bekal menuju kompetisi MMA paling bergengsi di dunia tersebut.
Petarung berusia 22 tahun itu mengaku UFC tetap menjadi target utama dalam perjalanan kariernya. Meski demikian, ia meyakini setiap tahapan harus dijalani dengan matang agar mampu bersaing saat kesempatan itu benar-benar datang.
"Kalau saya sendiri, titik puncak karier MMA saya tetap UFC suatu saat nanti. Di situ tujuan saya," ujar Gibran kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (5/8).
Baca Juga: The Arrow Man Bidik Prestasi di Jepang, Asian Games 2026 Jadi Fokus Penuh Gibran Darrow
Menurut Gibran, kemampuan seorang petarung tidak dibangun hanya melalui latihan. Jam terbang di berbagai kejuaraan menjadi modal penting untuk menempa mental, teknik, sekaligus kemampuan membaca pertandingan. "Pertama saya bakal cari experience dulu, pengalamannya diperbanyak dulu. Baru dari pengalaman itulah nanti bisa terjun ke profesional," terangnya.
Dia menilai keputusan untuk langsung terjun ke level profesional tanpa bekal pengalaman yang memadai justru berisiko menghambat perkembangan seorang atlet. "Kalau misalnya langsung nyebur ke pro, sama saja kayak bunuh diri. Jadi harus banyak experience dulu," tegasnya.
Baca Juga: Fighter asal Solo, Linda Darrow, Siapa Bilang Wanita Itu Lembek
Prinsip itu pula yang selalu ditanamkan kedua orang tuanya sejak dirinya mulai aktif bertanding. Gibran didorong untuk memperbanyak pertandingan, baik di tingkat nasional maupun internasional, demi menambah pengalaman. "Orang tua saya selalu bilang banyakin tanding dulu. Entah nasional, internasional, atau pertandingan apa saja, yang penting cari pengalaman dan jam terbang," ujarnya.
Menurutnya, pengalaman yang diperoleh saat bertanding tidak dapat digantikan oleh sesi latihan di sasana. Semakin sering menghadapi lawan dengan karakter berbeda, semakin cepat pula kemampuan seorang petarung berkembang.
"Di pertandingan itu sama saja kayak dua kali latihan lebih cepat daripada latihan seperti biasa. Jadi tanding, tanding, tanding, dan cari pengalaman," ucapnya.
Selain pengalaman bertanding, Gibran menilai penguasaan teknik juga menjadi faktor penting bagi petarung yang ingin bersaing di level dunia. Dia melihat masih banyak atlet MMA di Indonesia yang lebih mengandalkan kemampuan striking dibandingkan grappling.
Menurutnya, kemampuan wrestling dan Brazilian Jiu-Jitsu justru menjadi fondasi penting dalam MMA modern karena memungkinkan petarung mengendalikan jalannya pertarungan.
"Kalau pukul-pukulan semua orang pasti bisa. Tapi enggak semua orang bisa take down dengan benar, kontrol lawan dengan benar. Makanya wrestling sama Jiu-Jitsu itu penting banget," jelasnya.
Gibran menilai perkembangan grappling di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya ialah belum meratanya pelatih maupun pembinaan Brazilian Jiu-Jitsu di berbagai daerah sehingga banyak atlet lebih berkembang pada teknik striking.
"Jiu-Jitsu ini benar-benar masih sedikit di Indonesia. Di beberapa daerah bahkan sulit menemukan pelatihnya. Akhirnya banyak atlet yang lebih berkembang di striking," katanya.
Baca Juga: Bangkit dari Kegagalan ke Kejuaraan Dunia, Shava Waranggani Bidik Emas Porprov
Oleh sebab itu, dia berharap semakin banyak sasana yang mengembangkan disiplin grappling agar kualitas petarung Indonesia semakin kompetitif di level internasional. Menurut Gibran, petarung masa kini dituntut memiliki kemampuan yang seimbang, baik saat bertarung dalam posisi berdiri maupun ketika duel berlanjut ke bawah.
"Saya enggak mau cuma dominan di satu sisi. Harus balance. Kalau lawan lebih bagus di striking saya bisa main ground, kalau lawan lebih kuat di ground saya juga harus bisa striking," tandasnya. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy