'Rasanya Dunia Runtuh', Curahan Hati Sprinter asal Kota Solo usai Gagal ke Kejuaraan Dunia

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 18:20 WIB
Shava Waranggani (tengah) saat mengikuti kejurnas. (Istimewa)
Shava Waranggani (tengah) saat mengikuti kejurnas. (Istimewa)

RADARSOLO.COM – Gagal tampil di World Athletics U-20 Championships 2026 menjadi pukulan telak bagi sprinter muda asal Solo, Shava Salvia Waranggani. Setelah berbulan-bulan mempersiapkan diri menuju Eugene, Oregon, Amerika Serikat, ia justru menerima kabar bahwa catatan waktunya tidak diakui sebagai syarat lolos karena faktor kecepatan angin.

Kabar tersebut datang hanya sekitar sepekan sebelum keberangkatan. Kondisi itu membuat atlet Jawa Tengah tersebut sulit menerima kenyataan karena kesempatan tampil di kejuaraan dunia merupakan impian yang telah lama ia perjuangkan.

Shava mengaku sempat kehilangan semangat. Bahkan, selama beberapa hari setelah menerima kabar tersebut, ia memilih menghentikan seluruh aktivitas latihan untuk menenangkan diri.

"Setelah mendapat kabar itu, saya benar-benar merasa down. Rasanya seperti dunia runtuh karena tampil di Kejuaraan Dunia adalah impian saya sejak kecil. Namun, mungkin memang belum menjadi rezeki saya," ujarnya kepada Radar Solo, Rabu (5/7/2026). 

Shava S Warangga memamerkan medali yang didapatkan dari sebuah kejuaraan bergengsi.
Shava S Warangga memamerkan medali yang didapatkan dari sebuah kejuaraan bergengsi.

 Perasaan kecewa itu membuatnya membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi mental. Menurut Shava, memaksakan diri berlatih dalam kondisi pikiran yang belum stabil justru tidak akan memberikan hasil yang maksimal.

Maka dari itu, ia memutuskan berhenti berlatih selama empat hari. Masa tersebut dimanfaatkannya untuk menerima kenyataan sekaligus mengembalikan motivasi sebagai atlet.

"Saya sempat berhenti latihan sekitar empat hari setelah diberi tahu. Waktu itu saya memang butuh waktu untuk mengembalikan semangat. Tetapi saya punya prinsip, kalau ini memang bukan rezeki saya, terus menangis atau terus bersedih juga tidak akan mengubah keadaan. Dunia tetap berjalan, jadi saya harus bangkit dan berjuang lagi," tuturnya.

Tak hanya itu, Shava juga mengurangi aktivitas di luar asrama. Ia memilih menyendiri karena masih banyak orang yang mempertanyakan alasan dirinya batal berangkat ke Amerika Serikat. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurutnya, justru membuat pikirannya semakin terbebani.

Meski demikian, ia bersyukur tidak menghadapi situasi tersebut seorang diri. Dukungan dari keluarga, teman, hingga pelatih menjadi kekuatan yang perlahan mengembalikan semangatnya untuk kembali ke lintasan.

"Awalnya saya lebih memilih menyendiri karena masih banyak yang bertanya kenapa saya tidak jadi berangkat. Itu cukup mengganggu pikiran saya. Alhamdulillah saya punya teman-teman yang selalu menyemangati, begitu juga pelatih yang terus memberikan dukungan sehingga saya bisa pelan-pelan bangkit lagi," ungkapnya.

Perhatian juga datang dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Menurut Shava, federasi tidak tinggal diam setelah keputusan World Athletics keluar. Pengurus langsung menghubunginya untuk menyampaikan permohonan maaf sekaligus memberikan dukungan moral.

Baca Juga: The Arrow Man Bidik Prestasi di Jepang, Asian Games 2026 Jadi Fokus Penuh Gibran Darrow

Sementara itu, keluarganya juga sempat dibuat terkejut karena sebelumnya seluruh persiapan keberangkatan, termasuk pengurusan visa, telah selesai dilakukan. Meski sedih, orang tua Shava meminta putrinya tetap sabar dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses menjadi atlet.

"Pengurus PB PASI menyampaikan permohonan maaf dan terus memberi semangat, baik secara langsung maupun lewat telepon dan WhatsApp. Orang tua saya juga kaget karena semua persiapan sudah selesai. Tapi mereka meminta saya tetap sabar karena mungkin memang belum menjadi rezeki saya," katanya.

Kini kondisi mental Shava mulai berangsur pulih. Ia memilih menjadikan kegagalan tersebut sebagai pelajaran berharga dan bertekad kembali mengejar prestasi pada kesempatan berikutnya. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
sprinter Shava Salvia Waranggani atletik amerika