Pemanah Solo Rasakan Kompetisi Tanpa Sekat di Para-meter Archery Indonesia Open 2026

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 16:10 WIB
Atlet panahan Surakarta, Assyifa Putri El Zahra membidik target dalam kejuaraan dalam kejuaraan Para-meter Archery Indonesia Open 2026 di lapangan FKIP UNS Surakarta, Jawa Tengah, (9/8/2026). Zahra berhasil meraih medali perak nomor Recurve Putri dan medali perunggu di Recurve Mixed Team. (NPC INDONESIA/Agung Wahyudi)
Atlet panahan Surakarta, Assyifa Putri El Zahra membidik target dalam kejuaraan dalam kejuaraan Para-meter Archery Indonesia Open 2026 di lapangan FKIP UNS Surakarta, Jawa Tengah, (9/8/2026). Zahra berhasil meraih medali perak nomor Recurve Putri dan medali perunggu di Recurve Mixed Team. (NPC INDONESIA/Agung Wahyudi)

RADARSOLO.COM – Bukan sekadar soal membidik sasaran dan mengejar skor. Para-meter Archery Indonesia Open 2026 menghadirkan pengalaman berbeda bagi pemanah Kota Solo. Dalam turnamen tersebut, atlet disabilitas dan non-disabilitas bertanding dalam satu arena tanpa sekat.

Salah satunya Asyifa Putri El Zahra. Pemanah asal Solo yang memperkuat Jawa Tengah itu turun di nomor recurve women. Asyifa merasakan langsung ketatnya persaingan sejak babak kualifikasi. Ia bahkan harus menjalani shoot-off setelah merasa belum mendapatkan tembakan terbaiknya.

“Karena tadi shoot-off ya, soalnya aku juga belum dapat tembakan yang bagus juga, habis itu shoot-off,” kata Asyifa melalui rilis pers kepada Jawapos Radar Solo, Minggu (10/8/2026).

Tekanan tersebut coba diatasi Asyifa dengan menjaga kepercayaan diri. Ia memilih tidak larut memikirkan hasil tembakan sebelumnya dan langsung berkonsentrasi menghadapi tembakan berikutnya.

“Percaya diri sih, nggak mikir, langsung tembak aja,” ujarnya.

Baca Juga: Wawali Astrid Terpukau dengan Streetball Liga Angkasa di Kota Solo, Sukses Semarak HUT Kemerdekaan RI

Turnamen yang digelar di Lapangan FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) pada 7–8 Agustus tersebut juga memberikan pengalaman berbeda bagi Asyifa. Dia bisa melihat secara langsung teknik yang digunakan para atlet para panahan Indonesia ketika bertanding.

“Bisa melihat bagaimana caranya atlet-atlet NPC untuk memanah. Itu semua banyak banget, bagaimana mereka menggunakan cara-caranya sendiri,” tutur Asyifa.

Konsep tersebut memang menjadi pembeda Para-meter Archery Indonesia Open 2026. Pemanah disabilitas dan non-disabilitas dipertemukan dalam satu arena. Total 65 peserta ambil bagian dalam turnamen ini, dengan 40 di antaranya merupakan pemanah non-disabilitas.

Dalam kejuaraan ini, Zahra berhasil meraih medali perak nomor Recurve Putri dan medali perunggu di Recurve Mixed Team

Ketua Penyelenggara Para-meter Archery Indonesia Open 2026 Rameez Ali mengatakan, konsep tersebut tidak hanya ditujukan untuk menguji kesiapan atlet para panahan menuju Asian Para Games 2026. Lebih dari itu, terdapat misi membangun solidaritas antara pemanah disabilitas dan non-disabilitas.

“Melalui ajang ini kami ingin menambah solidaritas antara pemanah disabilitas dan non-disabilitas, yang mana selama ini mungkin belum pernah bertanding bersama, terutama di kejuaraan nasional,” kata Rameez.

Baca Juga: 'Rasanya Dunia Runtuh', Curahan Hati Sprinter asal Kota Solo usai Gagal ke Kejuaraan Dunia

Menurut Rameez, pertemuan dalam satu kompetisi dapat membuka ruang interaksi yang lebih luas. Karena itu, NPC Indonesia berinisiatif menggelar kejuaraan tersebut sebagai salah satu upaya memperkuat solidaritas sekaligus memperkenalkan atmosfer kompetisi yang inklusif.

Selain itu, turnamen tersebut diharapkan mampu menumbuhkan minat berprestasi di cabang olahraga para panahan. Peserta pun datang dari berbagai daerah, mulai dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat, hingga Sumatera Barat.

Bagi Asyifa, format kompetisi tersebut menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman. Ia tidak hanya menghadapi lawan di arena, tetapi juga dapat mengamati teknik yang digunakan para atlet NPC Indonesia.

Atlet para panahan Indonesia Ken Swagumilang juga merasakan atmosfer berbeda ketika bersaing dengan pemanah non-disabilitas. Ia berharap konsep tersebut dapat terus dikembangkan pada masa mendatang.

“Kalau bisa tahun depan dibuat lebih besar lagi, pesertanya ditambah lagi. Pasti akan lebih meriah. Kita bisa latihan buat merasakan pressure lagi,” ungkap Ken.

Baca Juga: Beri Ruang Anak Non-SSB, Liga Angkasa Berbasis Street Ball Digelar Swadaya di Sangkrah Solo

Harapan tersebut sejalan dengan keinginan Rameez agar Para-meter Archery Indonesia Open tidak berhenti pada penyelenggaraan tahun ini.

“Harapan kami, event ini bisa diselenggarakan setiap tahun,” tuturnya.

Kehadiran pemanah Solo dan peserta dari berbagai daerah membuat Para-meter Archery Indonesia Open 2026 bukan sekadar arena perebutan medali. Ajang tersebut menjadi ruang bagi atlet disabilitas dan non-disabilitas untuk bertemu, bertanding, sekaligus saling belajar dalam satu kompetisi tanpa sekat. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
Pemanah