Mengenal Wushu Taolu, Indahnya Jurus yang Dibayangi Kerumitan Penilaian

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:30 WIB
Atlet wushu Kota Solo tengah berlatih di sasana PMS, belum lama ini. (Hernindya Jalu/Radar Solo)
Atlet wushu Kota Solo tengah berlatih di sasana PMS, belum lama ini. (Hernindya Jalu/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Wushu merupakan seni bela diri asal Tiongkok yang terbagi dalam dua nomor utama, yakni Wushu Taolu atau seni jurus dan Sanda atau pertarungan. Sekilas, Taolu terlihat seperti perpaduan gerakan seni dan bela diri yang indah. Namun, di balik penampilan tersebut terdapat sistem penilaian yang cukup kompleks.

Setiap detail gerakan menjadi perhatian juri. Kesalahan kecil pun dapat berpengaruh terhadap nilai akhir dan menentukan posisi atlet di klasemen.

Pelatih Wushu di sasana PMS Solo, Yofan, mengatakan tingkat ketelitian dalam Taolu membuat persaingan antar-atlet berlangsung sangat ketat. Bahkan, selisih nilai 0,1 poin dapat menentukan peluang seorang atlet untuk naik podium ketika pesaingnya mampu tampil tanpa kesalahan.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Liga 2: Bukan ke Persijap Jepara, Roman Paparyga Kembali ke Klub Ini Usai Tinggalkan Persis Solo

Menurut Yofan, tingkat kesulitan Taolu tidak hanya terletak pada kemampuan menghafal dan menjalankan rangkaian jurus. Atlet juga dituntut menguasai kecepatan, power, fleksibilitas, hingga kemampuan melakukan lompatan dan mendarat dengan sempurna.

"Kalau Wushu ini lebih kompleks. Ada namanya lompatan, ada flexibility, ada pakai speed, ada pakai power. Bahkan setelah lompatan kita landing harus diam 100 persen," kata Yofan, Kamis (6/8/2026).

Baca Juga: Update Bursa Transfer Liga 2: Persiraja Banda Aceh Perkenalkan Lima Talenta Aceh, Dua Pemain Dikontrak Tiga Tahun

Pada kategori senior, atlet juga memiliki ruang untuk berkreasi dengan menyusun rangkaian jurus sendiri. Meski demikian, kebebasan tersebut tetap dibatasi oleh aturan pertandingan. Sejumlah gerakan wajib harus dimasukkan ke dalam rangkaian jurus.

"Kalau kelas Porprov kan sudah senior, itu kita jurus bikin sendiri. Maksudnya kita berkreasi. Jadi kita benar-benar saling mempertandingkan apa yang kita pelajari dari kecil, apa yang kita pelajari saat kita di sasana masing-masing, kita tunjukkan waktu di pertandingan," jelasnya.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Liga 2: Rifal Lastori Gabung Kendal Tornado FC, Bawa Misi Promosi ke Level Lebih Tinggi

Selain gerakan wajib, bentuk tangan juga memiliki ketentuan tersendiri. Kesalahan dalam membentuk gerakan tangan dapat membuat nilai atlet dipotong.

"Dan itu pun kita masih ada gerakan wajib yang harus dimasukkan ke jurus. Bahkan ada peraturan-peraturannya juga lebih kompleks. Kalau Wushu ini bahkan bentuk tangan ada potongannya. Kalau bentuk tangan salah, itu kena potong," ujar Yofan.

Tidak hanya tangan. Langkah kaki juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam penilaian. Gerakan yang terlihat kecil bagi penonton dapat berdampak terhadap perolehan nilai atlet.

Yofan menyebut aturan Wushu Taolu yang lebih baru juga semakin detail. Kesalahan dalam satu gerakan dapat menjadi pengurang nilai.

"Untuk peraturan yang lebih baru lagi 2024, itu lebih detail lagi. Katakanlah untuk cuma satu kesalahan berupa gerakan kecil bisa memotong penilaian juri," katanya.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Liga 2: Rifal Lastori Gabung Kendal Tornado FC, Bawa Misi Promosi ke Level Lebih Tinggi

Ketatnya persaingan tersebut semakin terasa pada kategori senior. Yofan yang pernah menjadi atlet PON Medan dan PON Papua mengatakan satu kesalahan dapat membuat atlet kehilangan peluang meraih podium, terutama ketika pesaing mampu tampil tanpa kesalahan.

"Kalau yang kelas senior ini mau jurus apa pun, satu kesalahan pasti nggak podium kalau yang lain bersih," tegasnya.

Selisih nilai dalam pertandingan senior pun sangat tipis. Menurut Yofan, penilaian menggunakan tiga angka di belakang koma. Karena itu, potongan nilai sekecil apa pun dapat memengaruhi posisi atlet.

"Terpautnya nilai di senior ini kita pakainya tiga angka di belakang koma. 9,560. Jadi terpautnya hanya 0,0. Sekali kena potong 0,1, ada yang 0,2, bahkan ada yang 0,3," terang Yofan.

Selain kesalahan teknis, penampilan atlet dinilai dari sejumlah aspek. Yofan menjelaskan terdapat 15 juri senior yang memiliki tugas berbeda dalam proses penilaian.

"Di meja bawah juri itu ada 15 orang (senior). Lima itu juri A, juri A itu objektif, jadi ada kode pembukuannya. Lima juri lagi itu untuk kualitas gerakan, kualitas fisik, bahkan ekspresi, gestur gerakan. Lima lagi ini untuk yang lompatan," paparnya.

Penilaian kualitas gerakan juga memiliki mekanisme tersendiri. Tidak semua nilai yang diberikan juri langsung masuk dalam perhitungan akhir.

"Untuk yang juri kualitas itu secara subjektif cara penilaiannya diambil dari nilai tertinggi, nilai terbawah dihapus. Tiga ini digabung, diakumulasi, dirata-rata," jelasnya.

Bagi Yofan, sistem tersebut menunjukkan bahwa Wushu Taolu bukan sekadar kemampuan menyelesaikan rangkaian jurus. Atlet harus mampu mengontrol setiap detail gerakan selama tampil.

Gerakan tangan, langkah kaki, lompatan, pendaratan, kecepatan, power, fleksibilitas, hingga kualitas gerakan menjadi bagian yang harus dipersiapkan. Kesalahan kecil pun dapat berpengaruh terhadap hasil akhir.

Dengan pengalaman sebagai atlet PON Medan dan PON Papua, Yofan memahami ketatnya persaingan di level senior. Menurutnya, persiapan matang menjadi kunci agar atlet mampu menjaga setiap detail gerakan saat berada di arena pertandingan.

"Kalau saya jujur kurang tahu dengan peraturan bela diri lainnya, tapi kalau Wushu ini bahkan bentuk tangan ada potongannya. Jadi memang tingkat kesulitannya cukup ekstrem sebenarnya," pungkas Yofan. (hj/nik) 

Editor : Niko auglandy
pms beladiri wushu