RADARSOLO.COM – Empat atlet anggar Kota Surakarta mendapat kesempatan menempa kemampuan di level internasional. Mereka mengikuti International Training Camp di Canggu, Kabupaten Badung, Bali, pada 1–8 Agustus 2026.
Bukan sekadar latihan bersama. Camp tersebut menghadirkan Daniel Levavasseur, pelatih anggar asal Prancis yang memiliki pengalaman di level Olimpiade. Kesempatan ini menjadi ruang bagi atlet Surakarta untuk menguji kemampuan sekaligus menyerap materi dari pelatih dengan pengalaman internasional.
Empat atlet yang dikirim yakni Sandy Dafa Faradilah, Tasya Allisya Sukarno Putri, Galung Satrio Wibowo, dan Vitson Bastian Kusuma Negara.
Pelatih Senior Anggar Kota Surakarta, Hendra Faradilah mengatakan, keikutsertaan dalam training camp tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi para atlet. Mereka tidak hanya mendapatkan materi teknik, tetapi juga belajar membaca permainan dan menghadapi lawan dengan karakter yang beragam.
Baca Juga: Arema FC Makin Percaya Diri Tatap Super League 2026/27, Komposisi Tim Sudah 90 Persen
Latihan juga berlangsung dalam suasana kompetitif. Sebab, peserta camp datang dari 16 negara. Selain Indonesia, terdapat delegasi dari Prancis, Spanyol, Belgia, Amerika Serikat, Hongkong, Singapura, Malaysia, Timor Leste, Taipei, Australia, Tiongkok, Macau, hingga Selandia Baru.
Bertemu atlet dari berbagai negara menjadi kesempatan bagi empat wakil Surakarta untuk mengukur kemampuan. Terlebih, sejumlah negara peserta memiliki tradisi anggar yang cukup kuat.
Hendra menyebut pengalaman tersebut penting untuk perkembangan atlet. Materi yang diberikan Daniel tidak berhenti pada penyempurnaan teknik dasar. Strategi bertanding hingga mental ketika menghadapi lawan juga menjadi bagian dari latihan.
Baca Juga: Borneo FC Kembali ke Jogja, Persiapan Sebulan Jelang Super League 2026/27 Penuh Perhitungan
Pengalaman itu sekaligus membuka gambaran mengenai standar yang harus dicapai jika atlet ingin bersaing lebih jauh. Selama ini, kemampuan atlet banyak ditempa melalui kompetisi di dalam negeri. Training camp tersebut memberi kesempatan untuk melihat langsung level persaingan yang lebih luas.
Bagi anggar Surakarta, program tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun pembinaan secara lebih serius. Cabor tidak hanya menunggu agenda pertandingan, tetapi mengambil inisiatif untuk memberikan pengalaman tambahan kepada atlet.
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Umum KONI Kota Solo Her Suprabu. Menurutnya, keseriusan cabor dalam menyusun program pembinaan menjadi modal penting untuk melahirkan atlet berprestasi.
“Melihat keseriusan dan program yang dijalankan, pantas jika anggar ini ke depannya menjadi lumbung medali emas bagi Kota Surakarta,” tegas Her Suprabu, dalam rilis yang diterima Jawa Pos Radar Solo, Senin (10/8/2026).
Her Suprabu lalu menuturkan bahwa pembinaan atlet tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. KONI memiliki peran dalam pembinaan olahraga prestasi, tetapi dukungan dari cabor, orang tua atlet, dan Pemerintah Kota juga tidak kalah penting.
“KONI dalam pembinaan memang tidak bisa berjalan sendiri. Peran orang tua atlet, dukungan dari Pemerintah Kota, serta kemandirian dari cabor itu sendiri sangat penting untuk berkolaborasi dalam meningkatkan prestasi atlet,” ujarnya.
Baca Juga: Persik Kediri Pilih Solo untuk TC, Marcos Reina Puas dengan Progres Tim
Kemandirian cabor menurut Her Suprabu justru perlu diperkuat. Setiap cabang olahraga memiliki kebutuhan berbeda sehingga inisiatif untuk membuat program pembinaan sesuai kebutuhan atlet menjadi sesuatu yang positif.
Apa yang dilakukan anggar diharapkan tidak berhenti pada empat atlet yang mengikuti training camp. Pengalaman dan pengetahuan yang didapat dapat menjadi bagian dari proses pembinaan berikutnya di Surakarta.
“Apa yang dilakukan oleh cabor anggar saat ini sangat baik dan patut untuk dicontoh oleh cabor-cabor lainnya di Surakarta,” kata Her Suprabu.
Baca Juga: Mengenal Wushu Taolu, Indahnya Jurus yang Dibayangi Kerumitan Penilaian
Bagi empat atlet tersebut, pengalaman di Bali menjadi tambahan bekal sebelum kembali menghadapi kompetisi. Materi dari pelatih berpengalaman serta kesempatan berlatih bersama atlet dari berbagai negara menjadi bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas mereka.
Hendra pun berharap pengalaman tersebut dapat diterapkan dalam latihan dan pertandingan selanjutnya. Dengan begitu, training camp tidak berhenti sebagai pengalaman singkat, tetapi memberi pengaruh terhadap perkembangan atlet dalam jangka panjang.
Anggar Surakarta kini memiliki pekerjaan lanjutan. Pengalaman internasional harus diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas latihan dan prestasi di arena pertandingan. Jika proses pembinaan berjalan konsisten, target menjadikan anggar sebagai salah satu lumbung emas Kota Surakarta bukan sekadar harapan. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy