RADARSOLO.COM – Keterbatasan anggaran tak menyurutkan Pengcab Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Kota Surakarta membidik prestasi di Porprov Jawa Tengah 2026. Enam pegulat disiapkan melalui program latihan mandiri dengan target membawa pulang dua medali emas dari ajang yang digelar di wilayah Semarang Raya tersebut.
Selain Porprov Jawa Tengah 2026, PGSI Solo juga tengah mematangkan persiapan menghadapi Popda Provinsi yang dijadwalkan berlangsung pada 1–6 September mendatang. Latihan untuk kedua agenda tersebut telah berjalan sekitar satu bulan terakhir.
Ketua Pengcab PGSI Solo Catur Bambang Priadi mengatakan, para atlet menjalani latihan intensif pada pagi dan sore hari. Program tersebut diterapkan dengan menyesuaikan aktivitas atlet yang sebagian masih berstatus pelajar dan sebagian lainnya sudah bekerja.
“Sudah sejak satu bulan kemarin kita sudah persiapan latihan pagi-sore untuk atlet yang Popda sama Porprov,” kata Catur kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (11/8/2026).
Latihan pagi digelar Senin hingga Sabtu. Sementara latihan sore berlangsung Senin hingga Jumat. PGSI Solo bahkan mengajukan dispensasi kepada sekolah maupun tempat kerja atlet agar program latihan tetap berjalan tanpa mengganggu kewajiban masing-masing.
Untuk Popda Provinsi, PGSI Solo memasang target empat medali emas, lima perak, dan 10 perunggu. Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi pegulat usia pelajar untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus mengukur hasil pembinaan yang telah dijalani.
Setelah Popda rampung, fokus PGSI Solo akan beralih ke Porprov Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang. Untuk ajang tersebut, target yang dipasang yakni dua medali emas, dua perak, dan dua perunggu.
“Agenda Popda Provinsi, cabang olahraga gulat Kota Solo kita targetkan medali empat emas, lima perak, sepuluh perunggu. Sementara untuk agenda Porprov-nya yang di Semarang Raya kita targetkan mendapatkan dua medali emas, dua perak, dan dua perunggu,” jelas Catur sembari melatih anak didiknya.
Namun, target tersebut harus dikejar dengan kondisi anggaran yang terbatas. Catur mengungkapkan, PGSI Solo tidak mendapatkan anggaran khusus untuk program pelatihan sehingga persiapan dilakukan secara mandiri.
“Kalau kendalanya kita kan sebenarnya dari KONI Kota Surakarta sama Dispora, untuk yang Popda dari Dispora, itu kan kita tidak ada anggaran untuk pelatihan. Jadi kita semua pelatihan mandiri,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi dalam persiapan menuju Porprov. PGSI Solo tidak dapat menggelar pemusatan latihan dengan sistem asrama atau mes. Para atlet tetap tinggal di rumah masing-masing dan datang ke lokasi latihan pada pagi serta sore hari.
Keterbatasan anggaran juga berdampak pada agenda latih tanding. PGSI Solo belum dapat menggelar try out maupun try in tahun ini karena anggaran dari KONI diarahkan untuk kebutuhan Porprov.
“Kalau untuk sparring, kebetulan kita kan cuma mengandalkan dana dari KONI. Jadi kalau dana dari KONI itu untuk tahun ini tidak ada, karena semua anggarannya diarahkan untuk Porprov semua, jadi untuk latih tanding itu try out ataupun try in tidak diadakan,” ungkap Catur.
Sebagai gantinya, PGSI Solo memaksimalkan latihan internal. Atlet Popda yang jumlahnya lebih banyak dimanfaatkan sebagai lawan tanding bagi enam pegulat yang dipersiapkan menuju Porprov.
PGSI Solo juga membuka latihan bersama dengan pegulat dari daerah sekitar. Sejumlah atlet dari Sragen, Klaten, Karanganyar, hingga Boyolali disebut telah bergabung dalam sesi latihan.
“Makanya kita memaksimalkan latihan di sini aja. Kita kolaborasi dengan yang Popda itu kan juga saling membantu untuk sparring-an. Kalau cuma enam yang Porprov itu nanti kan masih kurang. Nah, kadang kita ada dari Sragen, dari Klaten, dari Karanganyar, juga dari Boyolali itu sudah ada yang ikut latihan di sini,” jelas Catur.
Menurutnya, latihan bersama tersebut menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan sparring. Kehadiran atlet dari daerah lain memberikan variasi lawan sekaligus membantu pegulat Solo mendapatkan suasana pertandingan dalam sesi latihan.
PGSI Solo kini terus memaksimalkan persiapan dengan fasilitas dan sumber daya yang tersedia. Popda menjadi ujian awal bagi kelompok usia pelajar, sedangkan Porprov menjadi sasaran utama bagi atlet yang dipersiapkan meraih medali.
Bagi PGSI Solo, keterbatasan anggaran tidak boleh menghentikan program latihan. Target dua emas Porprov tetap menjadi pegangan, sementara latihan mandiri dan kolaborasi dengan atlet dari daerah lain menjadi strategi untuk menjaga kesiapan pegulat hingga memasuki arena pertandingan. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy