Pernah Ditawari Gabung Tim Iko Uwais, Yofan Bicara Peluang Karier Atlet Wushu

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:21 WIB
Yofan saat mengikuti cabor wushu di PON Aceh Sumut 2024. (Istimewa)
Yofan saat mengikuti cabor wushu di PON Aceh Sumut 2024. (Istimewa)

RADARSOLO.COM – Karier atlet Wushu tidak selalu harus berhenti di arena pertandingan. Kemampuan bela diri, fisik, disiplin, dan pengalaman yang ditempa selama bertahun-tahun sebenarnya dapat menjadi bekal untuk menapaki bidang lain. Namun, jalur tersebut belum banyak berkembang di lingkungan Wushu PMS Solo.

Salah satu pelatih Wushu PMS Solo, Yofan, mengatakan atlet di sasana tersebut selama ini lebih banyak diarahkan untuk mengejar prestasi. Setelah mencapai level tertentu, pilihan untuk melanjutkan karier di luar arena belum banyak diambil.

“Kalau yang di Wushu PMS sendiri pun ya paling dari atlet mentok PON, ya kalau ada yang internasional juga. Tapi mentoknya ya paling jadi pelatih,” kata Yofan.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Liga 1: PSM Makassar Mulai Ngebut! Darije Kalezic Datang, 3 Pemain Asing Jadi Rekrutan Awal, Eks Pemain Kunci Pindah ke Persebaya Surabaya

Menurut Yofan, menjadi pelatih memang salah satu pilihan yang bisa ditempuh setelah atlet mengakhiri masa kompetisinya. Namun, dia mendorong para atlet untuk tidak berhenti mengembangkan diri setelah tidak lagi bertanding.

“Itu pun saya juga menyarankan ya jangan sampai mandek di sini, kalau bisa lebih sukses kenapa nggak gitu,” ujar Yofan kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (6/8/2026).

Baca Juga: Usai Antar Persis Solo ke Final EPA, Imam Rohmawan Dipercaya Jadi Asisten Pelatih Timnas Indonesia U-16

Yofan menilai sebenarnya terdapat peluang bagi atlet Wushu untuk mengembangkan kemampuan di bidang lain. Salah satunya industri film yang membutuhkan kemampuan bela diri dan keterampilan fisik.

Ia bahkan pernah merasakan peluang tersebut secara langsung. Yofan mengaku sempat mendapat tawaran bermain film dari tim Iko Uwais. Namun, kesempatan tersebut belum menjadi jalur yang kemudian banyak diikuti atlet Wushu PMS.

“Untuk saat ini mungkin belum. Sebenarnya beberapa tawaran memang ada, saya sendiri pernah ditawari juga untuk main film, gabung dengan timnya Iko Uwais. Cuman ya balik lagi, mungkin kalau di PMS yang kelas atlet memang tujuannya bukan ke dunia tersebut,” jelasnya.

Baca Juga: Contoh Susunan Upacara Hari Pramuka 2026, 14 Agustus 2026 Lengkap

Menurutnya, fokus utama kelas atlet di Wushu PMS memang masih berada pada prestasi. Atlet dipersiapkan mengikuti kompetisi dan mencapai jenjang yang lebih tinggi sehingga jalur karier di luar pertandingan belum menjadi bagian dari pembinaan secara khusus.

Di sisi lain, sejumlah atlet mulai memiliki rencana masing-masing ketika masa sebagai atlet berakhir. Ada yang ingin melanjutkan pendidikan, sementara beberapa lainnya memiliki rencana untuk bekerja di luar negeri.

“Memang ada plan kayak ada yang mau kerja di luar negeri, ada yang mau fokus kuliah, kayak beberapa ini bakal ada yang pensiun yang senior-senior. Memang peluangnya ada, tapi kalau untuk yang Wushu PMS sendiri memang tidak ada yang mengambil,” tuturnya.

Yofan menyebut belum ada perencanaan khusus di Wushu PMS untuk mengarahkan atlet menuju karier lain di luar dunia kompetisi. Termasuk mengembangkan kemampuan bela diri ke industri film seperti yang sempat menjadi peluang baginya.

Kondisi tersebut membuat Yofan mendorong para atlet untuk tidak hanya memikirkan pencapaian selama masih aktif bertanding. Menurutnya, kemampuan yang dimiliki atlet seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membuka kesempatan yang lebih luas setelah masa kompetisi berakhir.

Bagi Yofan, prestasi tetap menjadi bagian penting dari perjalanan seorang atlet. Namun, ketika masa kompetisi sudah selesai, atlet juga perlu memiliki pilihan untuk melanjutkan kehidupan melalui bidang yang sesuai dengan kemampuan dan minat.

“Sejauh ini kebanyakan masih tetap jadi pelatih. Itu pun saya juga menyarankan ya jangan sampai mandek di sini, kalau bisa lebih sukses dalam karier ke depannya,” tegasnya.

Pengalaman mendapat tawaran dari tim Iko Uwais menjadi salah satu contoh bahwa kemampuan bela diri seorang atlet dapat memiliki nilai di luar arena pertandingan. Namun, peluang tersebut sejauh ini belum banyak dimanfaatkan oleh atlet Wushu PMS.

Karena itu, bagi Yofan, menjadi atlet seharusnya tidak hanya dipandang sebagai perjalanan untuk mengejar medali. Kemampuan, pengalaman, dan disiplin yang ditempa selama menjadi atlet dapat menjadi modal ketika memasuki fase kehidupan berikutnya.

Jalur menjadi pelatih tetap terbuka bagi atlet yang ingin bertahan di dunia Wushu. Namun, Yofan berharap pilihan tersebut bukan menjadi satu-satunya tujuan setelah atlet menyelesaikan perjalanan kompetitifnya. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
yofan wushu UMS