Gym Makin Menjamur, PABERSI Kota Solo Bidik Bibit Lifter Baru  

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:02 WIB
Lifter binaan Pengcab Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABERSI) Kota Solo tengah berlatih. (Hernindya Jalu/Radar Solo)
Lifter binaan Pengcab Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABERSI) Kota Solo tengah berlatih. (Hernindya Jalu/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Menjamurnya pusat kebugaran di Kota Solo membuka peluang baru bagi regenerasi atlet angkat berat. Mereka yang terbiasa melakukan latihan beban dinilai memiliki potensi untuk diarahkan menjadi atlet. Namun, peluang tersebut belum sepenuhnya tergarap.

Ketua Pengcab Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABERSI) Kota Solo Yunianto Eko mengatakan, pusat kebugaran dapat menjadi salah satu tempat untuk melakukan pencarian bibit. Pengurus bisa melihat potensi anak muda yang sudah memiliki ketertarikan terhadap latihan beban.

Menurut Yunianto, calon atlet tidak harus langsung datang dari sasana angkat berat. Atlet baru juga bisa ditemukan dari masyarakat yang sebelumnya hanya menjadikan fitness sebagai aktivitas olahraga maupun gaya hidup.

"Kalau sekarang model pertandingan angkat berat itu seperti gym, seperti anak-anak fitness. Jadi sebenarnya bisa mencari di fitness center. Dari situ bisa dilihat siapa yang mau menjadi atlet, kemudian dibina dan dilatih menjadi atlet angkat berat," kata Yunianto saat dihubungi via telepon, Senin (17/8/2026).

Peluang tersebut semakin terbuka seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga fitness. Aktivitas latihan beban kini tidak lagi identik dengan atlet. Banyak anak muda menjadikannya bagian dari rutinitas untuk menjaga kebugaran maupun membentuk tubuh.

Namun, tren tersebut belum otomatis menghasilkan regenerasi atlet powerlifting. Menurut Yunianto, dibutuhkan sistem talent scouting agar potensi yang ada di tempat-tempat fitness bisa diarahkan menuju olahraga prestasi.

Persoalan lainnya adalah minimnya kompetisi. Yunianto menyebut event angkat berat di Indonesia masih relatif sedikit. Kondisi itu membuat ruang bagi atlet pemula untuk mengenal atmosfer pertandingan juga terbatas.

"Event angkat berat di Indonesia saya kira masih sedikit. Kalau kami mengadakan sendiri tanpa melihat kekuatan di rumah, buat apa? Lebih baik memperkuat diri sendiri dulu. Kalau sudah oke dan berani diadu, baru mengikuti event-event yang banyak," ujarnya.

PABERSI Solo pun belum buru-buru membuat kompetisi sendiri. Pengurus masih memilih memperkuat pembinaan internal sebelum mengembangkan event yang bisa menjadi wadah pencarian bibit.

Yunianto menilai kompetisi antar-sekolah sebenarnya bisa menjadi salah satu model yang menarik. Format tersebut dapat memperkenalkan angkat berat kepada pelajar sekaligus membuka peluang bagi pengurus untuk menemukan atlet potensial.

Namun, pengembangan model tersebut tidak mudah. Angkat berat belum memiliki sistem pembinaan yang sama dengan sejumlah cabang olahraga lain yang sudah terbiasa menerapkan iuran klub.

"Basket itu ikut klub ada iurannya. Sepak bola juga ada SSB yang membayar. Angkat berat ini iuran Rp 10 ribu per bulan saja tidak ada. Jadi kalau mau mengembangkan pembinaan memang tidak mudah," ungkap Yunianto.

Selain persoalan pembiayaan, masih ada anggapan yang perlu diluruskan di tengah masyarakat. Salah satunya stigma bahwa olahraga angkat berat atau angkat besi dapat membuat anak menjadi pendek.

Menurut Yunianto, persepsi tersebut seharusnya tidak lagi menjadi alasan untuk menjauhkan anak dari olahraga angkat berat. Pembinaan yang tepat menjadi faktor penting dalam memastikan latihan berjalan sesuai kebutuhan atlet. 

"Memang ada pandangan masyarakat kalau angkat berat atau angkat besi itu membuat pendek. Padahal kalau melihat atlet sekarang, ada juga yang tinggi. Jadi anggapan itu sebenarnya bisa diabaikan. Yang penting bagaimana latihan dan pembinaannya," tuturnya.

Di sisi lain, atlet angkat berat Solo peraih medali perunggu PON XXI Aceh-Sumut 2024, Adven Hindarto, melihat tren fitness sebagai peluang yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Menurutnya, fasilitas powerlifting yang lebih representatif bisa membuat olahraga tersebut semakin mudah dikenali. Masyarakat yang awalnya datang ke gym untuk berolahraga bisa diperkenalkan dengan jalur prestasi.

"Kalau tempat latihan kami lebih besar dan alatnya juga memenuhi, tentu akan lebih menarik. Sekarang yang sedang tren kan tempat-tempat fitness. Kalau fasilitas powerlifting bisa dibuat setara dengan gym, saya yakin akan lebih banyak yang tertarik," kata Adven.

Oleh sebab itu, perkembangan fitness di Solo dinilai bisa menjadi momentum untuk memperluas basis atlet powerlifting. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan komunitas fitness dengan sistem pembinaan olahraga prestasi.

Jika talent scouting, kompetisi, dan pembinaan bisa berjalan beriringan, gym tidak hanya menjadi tempat membentuk fisik. Lebih jauh, tempat tersebut bisa menjadi pintu masuk lahirnya lifter-lifter baru dari Kota Solo. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
atlet lifter angkat berat porprov